1,5 Km Jalan Muara Ancalong Masih Terendam Banjir, Akses Warga Terganggu

MUARA ANCALONG, IMENEWS.ID – Sebanyak 1,5 kilometer ruas jalan di Desa Kelinjau Ulu, Kecamatan Muara Ancalong, Kabupaten Kutai Timur masih terendam banjir dan belum tertangani. Kondisi ini sangat mengganggu akses warga dari tujuh desa untuk beraktivitas, terutama saat musim penghujan atau air sungai meluap.

Camat Muara Ancalong, Harun Al Rasyid mengatakan, meskipun telah berhasil menimbun 2,5 kilometer jalan dari target 4 kilometer, masih tersisa 1,5 kilometer yang belum terselesaikan akibat terkendala cuaca buruk.

“Ini kita masih ada kurang 1,5 kilo lagi yang belum kita timbun untuk ditingkatkan. Kalau terjadi banjir masyarakat biasanya itu lewat pakai ketinting, pakai perahu kecil,” ujar Harun. Senin (24/11/2025).

Kondisi jalan yang terendam air memaksa warga menggunakan ketinting atau perahu kecil untuk bisa melintas. Hal ini tentu sangat menyulitkan, terutama bagi mereka yang harus membawa barang bawaan atau dalam kondisi darurat kesehatan.

“Jadi kita harapkan kalau setelah ditimbun ini masyarakat walaupun airnya naik itu tidak banjir sehingga tidak mengganggu aktivitas mereka,” jelasnya.

Harun menjelaskan, ruas jalan dari kilometer 1 sampai kilometer 4 di Desa Kelinjau Ulu merupakan akses vital yang menghubungkan tujuh desa di wilayah Muara Ancalong. Ketika air sungai meluap, jalan benar-benar tertutup air dan tidak bisa dilalui kendaraan bermotor.

Jalan yang kerap terendam banjir ini menjadi akses utama bagi warga dari tujuh desa, yakni Desa Kelinjau Ulu, Desa Senyiur, Desa Longna, Desa Longpok, Desa Teluk Baru, Desa Gemar, dan Desa Longtesak. Kondisi ini sangat menghambat mobilitas dan aktivitas ekonomi masyarakat.

“Di antar desa dari desa-desa Kelinjau ke desa-desa di Hulu maupun Desa Senyur. Seperti Desa Longna, Desa Longpok maupun Desa Teluk Baru. Ada Gemar, ada Desa Longtesak, ada enam desa kami di Hulu sana. Sama Senyur beda arah itu, berarti tujuh,” rinci Harun.

Warga dari ketujuh desa tersebut sangat bergantung pada akses jalan ini untuk berbagai keperluan, mulai dari pergi ke pasar, ke sekolah, ke Puskesmas, hingga mengangkut hasil pertanian dan perkebunan mereka.

Dampak banjir yang merendam jalan sangat dirasakan oleh masyarakat. Anak-anak sekolah kesulitan pergi ke sekolah, warga yang sakit tidak bisa segera dibawa ke fasilitas kesehatan, dan distribusi barang kebutuhan pokok terhambat.

“Sehingga tidak mengganggu akses di antar desa, dari desa-desa Kelinjau ke desa-desa di Hulu maupun Desa Senyur,” ungkap Harun menekankan pentingnya penyelesaian penimbunan jalan tersebut.

Petani dan nelayan juga mengalami kerugian ekonomi karena kesulitan mengangkut hasil panen atau tangkapan mereka ke pasar. Biaya transportasi menjadi lebih mahal karena harus menggunakan perahu, sementara volume barang yang bisa diangkut terbatas.

Harun menjelaskan, penimbunan jalan sempat berjalan lancar dengan dukungan delapan perusahaan yang menyediakan alat berat dan material. Namun, cuaca buruk dengan intensitas hujan tinggi memaksa pekerjaan dihentikan sementara.

“Kita tinggal nunggu mau kita lanjutkan kemarin terkendala cuaca ini. Kemarin kan sudah penimbunan 2,5 kilo, kira kurang 1,5 kilo ini ternyata kendala cuaca hujan lagi, akhirnya stop semua alat-alat perusahaan ditarik lagi,” jelasnya.

Alat-alat berat dari PT TPA, PT BTPCS, PT Triple S, PT CDM, PT BTKMS, PT BTSAS, PT PBA, dan PT Info Tani terpaksa ditarik untuk menghindari kerusakan dan demi keselamatan pekerja. Pekerjaan akan dilanjutkan kembali begitu kondisi cuaca membaik.

Muara Ancalong memiliki karakteristik geografis yang flat (datar) dan merupakan daerah basah. Wilayah ini termasuk dalam kawasan lahan basah Mesangat Sui yang memiliki ketinggian hampir sama dengan permukaan sungai.

“Daerah di sini ini daerah basah. Dan ini masuk di kawasan Mesangat Sui itu kawasan lahan basah,” jelas Harun.

Kondisi geografis ini membuat wilayah Muara Ancalong sangat rentan terhadap banjir, terutama saat musim penghujan atau saat air sungai pasang. Jalan yang tidak ditinggikan akan langsung terendam air dan tidak bisa dilalui.

Meski penimbunan jalan telah dilakukan, Harun menyadari bahwa ini hanya solusi temporer. Ia berharap program Multi Years dari pemerintah pusat dapat segera masuk untuk memberikan solusi permanen.

“Harapan kami mudah-mudahan di tahun depan kelanjutan dari program Multi Years bisa segera masuk sehingga tidak mengganggu akses,” harapnya.

Program Multi Years dinilai penting untuk membangun struktur jalan yang lebih kuat dan permanen, lengkap dengan sistem drainase yang baik sehingga tidak mudah terendam saat banjir.

Kondisi jalan yang terendam banjir tidak hanya berdampak pada mobilitas fisik, tetapi juga pada aspek sosial dan ekonomi masyarakat. Biaya hidup menjadi lebih mahal karena distribusi barang terhambat, harga barang kebutuhan pokok melonjak.

Anak-anak yang sekolah di kecamatan sering terlambat atau bahkan tidak bisa masuk sekolah sama sekali saat banjir. Hal ini tentu mengganggu proses pendidikan mereka dan berpotensi menurunkan kualitas SDM di masa depan.

Dari sisi kesehatan, akses ke Puskesmas yang terhambat membuat warga kesulitan mendapatkan pelayanan kesehatan, terutama dalam kondisi darurat. Beberapa kasus penyakit terlambat ditangani karena kendala transportasi.

Harun berkomitmen akan segera menyelesaikan penimbunan sisa 1,5 kilometer begitu kondisi cuaca memungkinkan. Ia akan kembali berkoordinasi dengan delapan perusahaan yang telah mendukung program ini.

“Kita mungkin cuman kita tinggal nunggu mau kita lanjutkan. Alhamdulillah sudah semua target kayak penimbunan tadi sudah selesai semua, tinggal melanjutkan yang 1,5 kilo lagi,” tegasnya optimis.

Camat juga akan mengajukan bantuan tambahan kepada Pemkab Kutai Timur jika diperlukan, baik berupa material maupun alat berat untuk mempercepat penyelesaian pekerjaan.

Masyarakat dari ketujuh desa sangat mengharapkan penyelesaian penimbunan jalan ini. Mereka berharap setelah selesai, aktivitas sehari-hari tidak lagi terganggu meski terjadi banjir.

“Harapan masyarakat sangat besar. Mereka sudah lelah harus bolak-balik pakai perahu kalau banjir. Apalagi kalau bawa barang banyak atau ada yang sakit, sangat menyulitkan,” ungkap Harun mewakili aspirasi warga.

Penyelesaian 1,5 kilometer jalan yang tersisa diharapkan dapat segera terealisasi sebelum musim penghujan benar-benar tiba. Dengan demikian, masyarakat tidak perlu lagi mengalami kesulitan akses seperti tahun-tahun sebelumnya. (Adv35)