Kembang Janggut Andalkan UMKM dan Kelapa Sawit sebagai Penopang Ekonomi 

Kukar, IMENews.id – Pemerintah Kecamatan Kembang Janggut terus mendorong pengembangan sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta memanfaatkan potensi kelapa sawit sebagai penopang utama perekonomian daerah.

Camat Kembang Janggut, Suhartono, mengatakan pihaknya memfokuskan program pengembangan ekonomi kreatif pada pemberdayaan pemuda lokal, di antaranya melalui penyediaan sarana usaha.

“Beberapa waktu terakhir kami memfasilitasi pembuatan rombong untuk anak-anak muda agar mereka memiliki kegiatan produktif,” kata Suhartono tidak lama ini.

Ia menjelaskan, sekitar 60–70 persen perekonomian masyarakat di Kembang Janggut bergantung pada perkebunan kelapa sawit, yang menjadi sektor andalan di wilayah tersebut.

“Ekonominya cukup bergantung pada kelapa sawit. Itu yang menjadi tulang punggung masyarakat di sini,” ujarnya.

Suhartono menambahkan, kehadiran perusahaan tambang di wilayah Tabang dan sekitarnya turut memengaruhi orientasi generasi muda, yang kini banyak memilih bekerja di sektor pertambangan.

Meski demikian, pemerintah kecamatan mendorong pemuda agar tetap mengembangkan usaha mandiri berbasis potensi lokal.

“Kami berikan fasilitas supaya mereka bisa berkembang. Kalau bisa berusaha sendiri, kenapa harus bergantung pada perusahaan,” katanya.

Ia berharap pembentukan UMKM dapat menjadi alternatif karier bagi pemuda desa, sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi yang berkelanjutan.

“Tidak bisa hanya mengandalkan tambang. Harus ada sektor ekonomi lain yang kuat,” tutup Suhartono. (ADV197/Red02)

Pulau Layung Seribu Bangkit Lagi: Dari Sepi Dua Tahun, Kini Dikunjungi Ratusan Wisatawan

Kukar, IMENews.id – Malam minggu di Pulau Layung Seribu, Kecamatan Kembang Janggut, kini kembali ramai.

Lampu-lampu berpendar di tepi sungai, suara musik terdengar dari kejauhan, dan deretan perahu kayu berjajar menunggu penumpang.

Setelah dua tahun vakum akibat berbagai kendala, salah satu destinasi wisata andalan Kutai Kartanegara (Kukar) ini mulai bangkit.

Camat Kembang Janggut, Suhartono, mengungkapkan bahwa geliat wisata mulai terasa sejak sebulan terakhir.

“Alhamdulillah, dalam sebulan ini sudah mulai jalan lagi. Khususnya malam minggu dan hari libur, pengunjung bisa lebih dari 100 orang,” ujarnya beberapa waktu lalu.

Peningkatan kunjungan terlihat jelas dari padatnya area parkir tidak resmi di sekitar dermaga.

“Mobil bisa sampai 50 unit di malam minggu, belum termasuk motor. Kami tahu dari laporan Polsek dan Koramil saat koordinasi masalah parkir,” jelasnya.

Meski demikian, tantangan masih ada. Salah satunya adalah ketiadaan fasilitas parkir permanen.

Pemerintah desa bersama pihak keamanan sudah duduk bersama untuk mencari solusi, agar lonjakan pengunjung tidak menimbulkan masalah baru.

Pulau Layung Seribu memiliki daya tarik unik: hamparan pasir putih di tengah sungai Mahakam, panorama matahari terbenam, serta aktivitas memancing yang menjadi favorit.

Namun, selama dua tahun terakhir, destinasi ini nyaris sepi. Pandemi, kendala pengelolaan, dan minimnya promosi menjadi faktor utama lesunya kunjungan.

Kini, Suhartono ingin menjadikan Pulau Layung Seribu sebagai bagian dari program pengembangan ekonomi lokal.

“Kita dorong terus agar wilayah ini jadi tujuan wisata berkelanjutan. Potensi ini besar untuk menggerakkan ekonomi desa dan membuka lapangan kerja,” tegasnya.

Ia menambahkan, dukungan masyarakat dan kolaborasi lintas sektor adalah kunci.

“Kalau ini dikelola baik, bukan hanya pengunjung yang senang, tapi warga juga bisa mendapat manfaat ekonomi langsung,” pungkasnya.

Dengan antusiasme wisatawan yang mulai kembali, Pulau Layung Seribu kini berada di persimpangan, antara sekadar menjadi hiburan musiman atau bertransformasi menjadi ikon wisata berkelas yang membawa dampak nyata bagi warga sekitar. (ADV196/Red02)

Loa Lepu Kembangkan Ketahanan Pangan dengan Lahan Produktif

Kukar, IMENews.id – Pemerintah Desa Loa Lepu, Kecamatan Tenggarong Seberang kini tengah memanfaatkan lahan kosong untuk mendukung program ketahanan pangan.

Dengan usaha tersebut, pihak desa yakin itu sekaligus dapat meningkatkan pendapatan asli desa (PAD).

Kepala Desa Loa Lepu, Jumali, mengatakan pemanfaatan lahan tersebut sudah dimulai pada 2025, diawali dari area di sekitar kantor desa lama.

Lahan yang semula tidak termanfaatkan kini disulap menjadi kebun produktif dengan sistem tanaman multikultura.

“Kami sudah menanam sekitar 2.000 batang pepaya, dan di sela-selanya ditanami tomat serta cabai. Jadi hasilnya tidak hanya satu jenis,” ujar Jumali di beberapa waktu lalu.

Menurut dia, pemilihan pepaya disesuaikan dengan kondisi tanah setempat yang cenderung berair, sehingga tanaman dapat tumbuh optimal.

Proyek tersebut dikelola Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) bekerja sama dengan kelompok tani setempat.

“BUMDes bertugas mengelola proses pertanian mulai dari pengadaan pupuk, pembelian hasil panen, hingga distribusi dan penjualan ke pasar. Seluruh keuntungan akan masuk ke PAD,” jelasnya.

Dengan skema tersebut, lanjut Jumali, desa memiliki sistem pertanian terpadu dan berkelanjutan.

Selain itu, desa tidak bergantung pada pihak luar dalam memenuhi kebutuhan pangan.

“Kami berharap pola ini menjadi contoh bagi desa-desa lain untuk mencapai kemandirian pangan dan ekonomi,” pungkasnya. (ADV200/Red02)

Loa Lepu Gunakan Mesin Pemusnah Sampah Ramah Lingkungan

Kukar, IMENews.id – Pemerintah Desa Loa Lepu, Kecamatan Tenggarong Seberang, tengah merampungkan perakitan mesin pemusnah sampah ramah lingkungan yang diberi nama Innovation Minimum Carbon.

Kepala Desa Loa Lepu, Jumali, mengatakan mesin tersebut dirancang untuk mengatasi permasalahan sampah rumah tangga secara mandiri di tingkat desa.

Berbeda dengan insinerator konvensional, alat ini tidak menghasilkan asap sehingga aman bagi kualitas udara.

“Kami sedang menyelesaikan proses perakitannya. Target tahun ini sudah bisa dioperasikan dan diresmikan,” kata Jumali baru-baru ini.

Mesin tersebut memanfaatkan bahan bakar gas elpiji 3 kilogram dengan tingkat konsumsi yang dinilai efisien.

Berdasarkan perhitungan pemerintah desa, biaya operasional hanya berkisar Rp180 ribu hingga Rp300 ribu per bulan, setara enam tabung gas.

“Dengan alat ini, sampah rumah tangga tidak perlu lagi diangkut ke tempat pembuangan akhir (TPA). Semua dikelola langsung di desa, sehingga truk sampah tidak perlu masuk ke Loa Lepu,” ujarnya.

Program ini juga didukung pembentukan bank sampah desa yang bertugas mengumpulkan dan memilah sampah dari rumah ke rumah.

Sistem jemput sampah telah dijalankan oleh petugas lapangan untuk memastikan kebersihan lingkungan tetap terjaga.

Jumali berharap inovasi ini dapat menjadi model pengelolaan sampah yang dapat diadopsi desa-desa lain di Kutai Kartanegara.

“Kalau desa-desa sudah punya alat seperti ini, Dinas Lingkungan Hidup bisa lebih fokus menangani wilayah dengan skala permasalahan yang lebih besar,” pungkasnya. (ADV199/Red02)

Mulai Berbenah, Loa Lepu Serius Bangun Desa Wisata Unggulan

Kukar, IMENews.id – Pemerintah Desa Loa Lepu, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, mulai mempersiapkan diri untuk menjadi desa wisata unggulan pada 2025 melalui berbagai program strategis, termasuk menjalin kemitraan dengan Desa Ponggok, Jawa Tengah.

Kepala Desa Loa Lepu, Jumali, mengatakan kolaborasi tersebut bertujuan mengadopsi model pemberdayaan masyarakat dan pengelolaan wisata yang telah berhasil diterapkan di Desa Ponggok.

“Fokus kami bukan hanya membangun destinasi, tetapi juga menyiapkan masyarakat menjadi pelaku wisata. Pelatihan dan inovasi akan menjadi prioritas,” ujar Jumali belum lama ini.

Sebagai langkah awal, pemerintah desa melakukan pemetaan potensi wisata, dengan menempatkan kebersihan lingkungan sebagai indikator utama.

Untuk mendukung hal itu, desa membentuk bank sampah dengan sistem jemput sampah rumah tangga.

Selain itu, desa juga mengoperasikan mesin pemusnah sampah ramah lingkungan bernama Innovation Minimum Carbon yang dapat beroperasi tanpa asap.

“Mesin ini tidak mengeluarkan asap dan hanya memerlukan biaya operasional sekitar Rp300 ribu per bulan. Harapannya, ini bisa menjadi contoh bagi desa lain,” kata Jumali.

Dengan teknologi tersebut, Loa Lepu tidak lagi bergantung pada pengangkutan sampah ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Jumali berharap langkah-langkah terstruktur yang dijalankan dapat menjadikan Loa Lepu magnet baru pariwisata di Kukar sekaligus membuka peluang kerja bagi warga.

“Dampaknya diharapkan positif bagi perekonomian masyarakat setempat,” pungkasnya. (ADV198/Red02)