Dispora Kutim: Aktivitas Positif Pemuda Bisa Tekan Balap Liar dan Judi Online

SANGATTA, IMENEWS.ID – Aktivitas positif dianggap sebagai benteng utama untuk mencegah pemuda terjerumus dalam perilaku negatif seperti balap liar, kenakalan remaja, hingga judi online. Hal ini disampaikan Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Kadispora) Kutai Timur (Kutim), Basuki Isnawan, dalam upayanya menguatkan peran pemuda melalui kegiatan kreatif dan kolaboratif.

Basuki menilai, pemuda membutuhkan ruang ekspresi yang dekat dan mudah diakses. Karena itu, pihaknya memilih menjalin komunikasi intensif dengan berbagai Organisasi Kepemudaan (OKP) di Kutim. “Kami berusaha hadir dan berdiskusi dengan mereka. Kami ingin tahu apa yang bisa didorong bersama agar mereka bisa aktif berkegiatan,” jelasnya. Senin (24/11/2025).

Ia meyakini, ketika pemuda sibuk dengan kegiatan yang konstruktif, mereka tidak akan memiliki waktu ataupun keinginan untuk melakukan aktivitas merugikan. Pendekatan ini juga bertujuan menempatkan Dispora sebagai mitra terdekat pemuda, bukan sekadar institusi formal. “Yang penting mereka sibuk. Dengan begitu, mereka tidak memikirkan hal negatif dan tidak lagi ada balap liar,” tambah Basuki.

Dalam sektor olahraga, Dispora Kutim juga memperkuat koordinasi dengan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kutim. Sinergi tersebut difokuskan pada peningkatan kualitas pembinaan atlet serta mempersiapkan cabang olahraga menjelang Pra-Porprov menuju Porprov Paser.

“Dispora terus bersinergi dengan KONI dalam pembinaan atlet, terutama jelang Pra-Porprov,” tegasnya. (Adv75).

Program Dokter Share Akan Rutin, Rencana Kembali Juni 2026

MUARA ANCALONG, IMENEWS.ID – Program pelayanan medis gratis Dokter Share yang sedang berlangsung di Kecamatan Muara Ancalong, Kabupaten Kutai Timur dipastikan akan menjadi agenda rutin tahunan. Pihak Dokter Share dan PT Bayan Group telah berkomitmen menggelar program serupa pada Juni 2026 mendatang. Senin (24/11/2025).

Camat Muara Ancalong, Harun Al Rasyid menyampaikan kabar gembira ini setelah berkoordinasi dengan tim Dokter Share dan pihak sponsor. Menurutnya, kesuksesan program tahun ini menjadi dasar komitmen keberlanjutan di masa depan.

“Harapan kami ini mudah-mudahan enggak cuma tahun ini tapi tahun depan juga bisa diprogramkan dilanjutkan. Dan rencana dari teman-teman Dokter Share dan PT Bayan Group itu di bulan Juni paling cepat 2026 akan dilaksanakan lagi,” ujar Harun.

Harun menegaskan bahwa program pelayanan medis gratis ini bukan hanya agenda sekali jalan, melainkan akan dilaksanakan secara berkelanjutan dengan konsep yang kurang lebih sama. Hal ini menunjukkan komitmen serius dari Dokter Share dan Bayan Peduli dalam memberikan akses kesehatan kepada masyarakat di daerah terpencil.

“Juni 2026 dengan kegiatan yang sama. Dengan kegiatan yang kurang lebih sama,” tegasnya.

Rencana ini disambut positif oleh masyarakat Muara Ancalong dan kecamatan sekitarnya yang selama ini kesulitan mengakses layanan kesehatan spesialistik. Program yang melibatkan 25 dokter dari Jakarta ini memberikan kesempatan langka bagi warga untuk mendapatkan operasi mata, gigi, dan bedah umum secara gratis.

Program Dokter Share yang berlangsung 10-19 November 2024 menargetkan minimal 1.500 pasien dari tiga kecamatan, yakni Muara Ancalong, Muara Bengkal, dan Long Mesangat. Pelayanan komprehensif yang diberikan mencakup pemeriksaan umum hingga berbagai jenis operasi.

Harun menjelaskan, kesuksesan program tahun ini akan menjadi acuan untuk pelaksanaan di tahun-tahun mendatang. Pihaknya akan melakukan evaluasi menyeluruh untuk memastikan program berjalan lebih baik di masa depan.

“Kami akan evaluasi bersama dengan tim Dokter Share dan Bayan Peduli. Apa yang kurang tahun ini akan kita perbaiki untuk pelaksanaan Juni 2026 nanti,” ungkapnya.

Salah satu keunikan program ini adalah sebagian operasi dilakukan di atas kapal Dharma Li 3 Zayid, sementara pemeriksaan dan operasi lainnya dilakukan di ruang-ruang kantor kecamatan yang dialihfungsikan sementara.

Keberlanjutan program ini tidak lepas dari komitmen PT Bayan Group melalui program CSR Bayan Peduli yang menjadi sponsor utama. Seluruh biaya operasional, mulai dari mobilisasi dokter, peralatan medis, hingga obat-obatan ditanggung sepenuhnya oleh perusahaan tambang tersebut.

“Yang sponsor utamanya memang PT Bayan Group melalui Bayan Peduli. Mereka sudah menyampaikan komitmen untuk terus mendukung program ini ke depan,” jelas Harun.

Dukungan penuh dari sektor swasta ini dinilai sangat membantu pemerintah daerah dalam mewujudkan pemerataan akses layanan kesehatan, terutama di wilayah-wilayah terpencil yang selama ini terlupakan.

Program Dokter Share juga merupakan bagian dari 50 program kesehatan keliling Pemerintah Kabupaten Kutai Timur yang digagas oleh Bupati dan Wakil Bupati. Program ini sejalan dengan visi pemkab untuk memastikan tidak ada satupun warga yang kesulitan mengakses layanan kesehatan berkualitas.

“Ini salah satu dari 50 program Pemkab Kutai Timur, yaitu program kesehatan keliling. Alhamdulillah dapat rekomendasi langsung dari Pak Bupati untuk dilaksanakan di Kecamatan Muara Ancalong,” papar Harun.

Kecamatan Muara Ancalong dipilih karena merupakan salah satu wilayah yang paling membutuhkan perhatian serius dalam bidang kesehatan. Keterbatasan tenaga dokter dan fasilitas kesehatan di wilayah ini menjadi pertimbangan utama.

Harun mengaku mendapat respons luar biasa dari masyarakat terhadap program ini. Banyak warga dari tiga kecamatan yang antusias memanfaatkan kesempatan langka mendapatkan pelayanan medis gratis berkualitas.

“Masyarakat sangat antusias. Banyak yang sudah lama menunda operasi karena kendala biaya, sekarang bisa mendapatkan pelayanan gratis dengan kualitas yang sama dengan di rumah sakit besar,” ungkapnya.

Antusiasme ini menjadi motivasi bagi pihak penyelenggara untuk terus melanjutkan program di masa depan. Bahkan, tidak menutup kemungkinan frekuensi pelaksanaan bisa ditingkatkan jika memungkinkan.

Untuk pelaksanaan Juni 2026 mendatang, Harun berharap target pasien bisa ditingkatkan menjadi lebih dari 1.500 orang. Namun ia juga menekankan pentingnya menjaga kualitas pelayanan.

“Insyaallah kalau misalnya memang berjalan sesuai di tahun ini dengan target minimal 1.500 itu, untuk tahun depan insyaallah kurang lebih sama. Tapi harapan kami tetap mudah-mudahan masyarakat sehat, enggak mengharapkan banyak pasien juga,” katanya.

Harun menjelaskan, meski target pasien penting, yang lebih diharapkan adalah masyarakat yang sehat. Program ini lebih berfokus pada upaya preventif dan kuratif bagi mereka yang memang membutuhkan penanganan medis serius.

Untuk menyukseskan program rutin ini, Harun menekankan pentingnya koordinasi yang baik antara pemerintah kecamatan, Dinas Kesehatan, Puskesmas, dan pihak sponsor. Sinergi yang solid akan memastikan program berjalan lancar dan tepat sasaran.

“Kami akan terus berkoordinasi dengan semua pihak terkait. Ini program besar yang membutuhkan dukungan semua pihak. Alhamdulillah selama ini koordinasinya berjalan baik,” ungkapnya.

Pihaknya juga akan melibatkan aparat desa dan tokoh masyarakat untuk membantu sosialisasi dan pendataan calon pasien jauh hari sebelum program dilaksanakan. Hal ini untuk memastikan pelayanan berjalan efisien dan tepat sasaran.

Harun berharap kesuksesan program di Muara Ancalong bisa menjadi inspirasi bagi kecamatan-kecamatan lain di Kutai Timur. Ia juga berharap ada lebih banyak perusahaan yang terinspirasi untuk berkontribusi dalam program serupa.

“Mudah-mudahan program seperti ini bisa diperluas ke kecamatan-kecamatan lain yang juga membutuhkan. Dan semoga lebih banyak lagi perusahaan yang peduli dengan kesehatan masyarakat di daerah terpencil,” pungkasnya optimis.

Dengan kepastian program Dokter Share akan kembali pada Juni 2026, masyarakat Muara Ancalong dan sekitarnya kini memiliki harapan baru untuk mendapatkan akses layanan kesehatan berkualitas secara rutin dan berkelanjutan. (Adv33)

Basuki Ajak Pemuda Kutim Ambil Peran, Dispora Siapkan Aplikasi OLGA sebagai Sarana Edukasi Olahraga

SANGATTA, IMENEWS.ID – Dorongan bagi generasi muda Kutai Timur (Kutim) untuk lebih aktif berkontribusi dalam pembangunan daerah kembali ditegaskan Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kutim, Basuki Isnawan. Dalam pesannya, Basuki mengajak pemuda untuk bangkit dan percaya diri dalam mengambil peran. Di saat bersamaan, Dispora juga tengah merampungkan Aplikasi OLGA, sebuah inovasi digital yang akan mempermudah akses informasi olahraga di Kutim.

Menurut Basuki, peran pemuda sangat diperlukan untuk memperkuat fondasi pembangunan daerah. Ia menekankan bahwa keraguan harus disingkirkan demi menciptakan generasi yang produktif dan visioner. “Kutai Timur ini milik kita. Kalau bukan kita anak muda yang ambil peran, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi,” ujarnya penuh semangat. Senin (24/11/2025).

Sebagai langkah pendukung, Dispora menghadirkan aplikasi OLGA yang akan menjadi pusat data digital terkait olahraga. Aplikasi ini disiapkan untuk memudahkan publik, terutama kalangan muda, mengakses informasi seputar cabang olahraga, prestasi atlet, maupun agenda kegiatan tanpa harus datang ke kantor Dispora.

Basuki menjelaskan bahwa OLGA selain memberikan kemudahan informasi, juga menjadi sarana edukasi untuk meningkatkan wawasan pemuda mengenai potensi olahraga di daerah. Ia optimistis aplikasi tersebut dapat menjadi yang pertama di Kalimantan Timur dalam bentuk layanan digital olahraga yang dikelola pemerintah daerah.

Saat ini, Dispora Kutim sedang mempersiapkan berbagai perangkat serta data pendukung agar aplikasi dapat segera diluncurkan. Basuki berharap generasi muda Kutim dapat memanfaatkan platform ini untuk meningkatkan partisipasi sekaligus memperkuat sinergi dengan pemerintah dalam memajukan sektor kepemudaan dan olahraga. (Adv74).

Program Multi Years Dinanti untuk Kelanjutan Perbaikan Jalan Antar Desa

MUARA ANCALONG,IMENEWS.ID – Pemerintah Kecamatan Muara Ancalong, Kabupaten Kutai Timur sangat mengharapkan program Multi Years dari pemerintah pusat dapat segera masuk untuk melanjutkan perbaikan jalan antar desa yang selama ini menjadi kendala utama mobilitas masyarakat.

Camat Muara Ancalong, Harun Al Rasyid menyampaikan, meski telah melakukan penimbunan jalan dengan dukungan delapan perusahaan di wilayahnya, solusi permanen tetap diperlukan untuk mengatasi masalah infrastruktur jalan secara menyeluruh.

“Harapan kami mudah-mudahan di tahun depan kelanjutan dari program Multi Years bisa segera masuk sehingga tidak mengganggu akses di antar desa, dari desa-desa Kelinjau ke desa-desa di Hulu maupun Desa Senyur,” ujar Harun.  Senin (24/11/2025).

Harun menjelaskan, penimbunan jalan yang telah dilakukan saat ini hanya bersifat temporer dan belum menjadi solusi jangka panjang. Program Multi Years dinilai sangat penting untuk membangun struktur jalan yang lebih kuat dan permanen.

“Penimbunan yang kita lakukan ini kan masih sederhana. Kita butuh program yang lebih besar dan terencana dengan baik seperti Multi Years agar jalan benar-benar kuat dan tidak mudah rusak,” jelasnya.

Program Multi Years merupakan program pembangunan infrastruktur yang dilaksanakan secara bertahap dalam beberapa tahun dengan perencanaan yang matang dan anggaran yang memadai. Program ini dianggap ideal untuk menangani permasalahan infrastruktur di daerah terpencil seperti Muara Ancalong.

Harun menekankan, perbaikan jalan sangat krusial karena menjadi akses utama bagi tujuh desa di wilayah Muara Ancalong. Desa-desa tersebut adalah Kelinjau Ulu, Kelinjau Ilir, Senyur, Longna, Longpok, Teluk Baru, Gemar, dan Longtesak.

“Seperti Desa Longna, Desa Longpok maupun Desa Teluk Baru. Ada Gemar, ada Desa Longtesak, ada enam desa kami di Hulu sana. Sama Senyur beda arah itu, berarti tujuh desa yang sangat bergantung pada jalan ini,” paparnya.

Ketujuh desa tersebut memiliki total populasi ribuan jiwa yang sehari-hari bergantung pada akses jalan untuk berbagai keperluan, mulai dari pendidikan, kesehatan, ekonomi, hingga sosial kemasyarakatan.

Permasalahan utama jalan di Muara Ancalong adalah sering terendam banjir, terutama pada ruas kilometer 1 sampai kilometer 4 di Desa Kelinjau Ulu. Kondisi geografis wilayah yang flat dan merupakan daerah basah membuat jalan mudah tergenang saat musim hujan atau air sungai meluap.

“Jalan kami ini khususnya dari kilo 1 sampai kilo 4 Desa Kelinjau Ulu itu kalau misalnya air naik, banjir, jalannya tertutup sehingga masyarakat terpaksa pakai ketinting atau perahu kecil,” ungkap Harun.

Kondisi ini berulang setiap tahun dan sangat mengganggu aktivitas masyarakat. Anak-anak sekolah kesulitan berangkat ke sekolah, warga yang sakit tidak bisa segera dibawa ke Puskesmas, dan distribusi logistik terhambat.

Harun menjelaskan, program Multi Years tidak hanya akan menimbun jalan lebih tinggi, tetapi juga dilengkapi dengan sistem drainase yang baik. Hal ini penting mengingat karakteristik wilayah Muara Ancalong yang termasuk kawasan lahan basah Mesangat Sui.

“Daerah di sini ini daerah basah. Dan ini masuk di kawasan Mesangat Sui itu kawasan lahan basah. Jadi butuh penanganan khusus dengan sistem drainase yang baik agar air tidak menggenang di jalan,” jelasnya.

Sistem drainase yang baik akan memastikan air cepat mengalir dan tidak menggenang di badan jalan. Dengan demikian, jalan tetap bisa dilalui meski terjadi hujan deras atau air sungai meluap.

Perbaikan jalan melalui program Multi Years diprediksi akan memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi masyarakat. Distribusi barang akan lebih lancar, biaya transportasi lebih murah, dan harga barang kebutuhan pokok lebih stabil.

“Kalau jalan bagus, petani bisa lebih mudah membawa hasil panen ke pasar. Harga barang kebutuhan pokok juga tidak akan melonjak seperti saat banjir,” ungkap Harun.

Selain itu, investor juga akan lebih tertarik membuka usaha di wilayah tersebut jika akses jalan sudah baik. Hal ini akan membuka lapangan kerja baru dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Harun menyampaikan, pihaknya telah berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Kutai Timur untuk mengusulkan program Multi Years ini. Usulan telah disampaikan melalui berbagai forum, termasuk saat kunjungan Bupati Kutai Timur ke Muara Ancalong pada 4 November 2024.

“Kemarin terakhir kunjungan Pak Bupati tanggal 4, kita sampaikan berbagai usulan termasuk harapan agar program Multi Years bisa masuk untuk perbaikan jalan,” katanya.

Ia berharap Pemkab Kutai Timur dapat meneruskan usulan ini ke pemerintah pusat, baik melalui Kementerian PUPR maupun jalur lainnya. Program Multi Years biasanya dibiayai oleh pemerintah pusat dengan skema bantuan khusus untuk daerah tertinggal.

Sambil menunggu realisasi program Multi Years, Harun mengapresiasi dukungan delapan perusahaan yang telah membantu penimbunan jalan sepanjang 2,5 kilometer. Perusahaan-perusahaan tersebut adalah PT TPA, PT BTPCS, PT Triple S, PT CDM, PT BTKMS, PT BTSAS, PT PBA, dan PT Info Tani.

“Kemarin kita udah nimbun sekitar 2,5 kilo dibantu oleh perusahaan-perusahaan sekitar. Tapi ini kan masih temporer, kita tetap butuh solusi permanen dari program Multi Years,” jelasnya.

Dukungan CSR dari perusahaan-perusahaan ini sangat membantu, namun tidak bisa menggantikan peran pemerintah dalam menyediakan infrastruktur dasar yang berkualitas dan berkelanjutan.

Harun menargetkan program Multi Years dapat masuk dan mulai direalisasikan pada tahun 2025. Ia optimis usulan yang telah disampaikan akan mendapat perhatian serius dari pemerintah pusat, mengingat urgensi permasalahan infrastruktur di wilayahnya.

“Mudah-mudahan di tahun depan kelanjutan dari program Multi Years bisa segera masuk. Ini sangat kami nantikan karena menyangkut hajat hidup orang banyak,” harapnya.

Jika program Multi Years terealisasi tahun depan, diharapkan pekerjaan bisa dimulai secepatnya agar masyarakat segera merasakan manfaatnya. Prioritas utama adalah ruas jalan yang paling kritis dan paling banyak digunakan masyarakat.

Harun juga menekankan pentingnya komitmen pemeliharaan jalan setelah program Multi Years selesai. Menurutnya, pembangunan infrastruktur tidak cukup hanya pada tahap konstruksi, tetapi juga harus dijaga keberlanjutannya.

“Nanti setelah jalan bagus, kita juga harus komit untuk merawatnya. Jangan sampai rusak lagi karena tidak ada pemeliharaan rutin,” tegasnya.

Ia akan mengusulkan agar ada alokasi anggaran khusus untuk pemeliharaan jalan di APBD Kabupaten Kutai Timur. Pemeliharaan rutin akan membuat jalan lebih awet dan tidak perlu biaya besar untuk perbaikan.

Masyarakat dari tujuh desa sangat mengharapkan program Multi Years dapat segera terealisasi. Mereka sudah lelah dengan kondisi jalan yang buruk dan terus berulang setiap tahun.

“Harapan masyarakat sangat besar. Mereka ingin punya jalan yang layak seperti desa-desa lain. Kami akan terus memperjuangkan ini untuk kesejahteraan masyarakat,” pungkas Harun optimis.

Program Multi Years diharapkan tidak hanya menyelesaikan masalah jalan di Muara Ancalong, tetapi juga menjadi contoh bagi kecamatan-kecamatan lain di Kutai Timur yang menghadapi permasalahan serupa. Dengan infrastruktur yang baik, pembangunan di daerah terpencil akan lebih cepat dan merata. (Adv36)

Peningkatan Daya Listrik Puskesmas Terealisasi, Masih Butuh Tambahan AC

MUARA ANCALONG, IMENEWS.ID – Puskesmas Muara Ancalong, Kabupaten Kutai Timur akhirnya berhasil meningkatkan daya listrik setelah lama mengalami kendala pasokan energi. Namun, masalah baru muncul karena unit Air Conditioner (AC) yang tersedia masih sangat terbatas, terutama di ruang rawat inap dan ruang dokter. Senin (24/11/2025).

Camat Muara Ancalong, Harun Al Rasyid menyampaikan, peningkatan daya listrik di Puskesmas telah terealisasi pada bulan Oktober 2024 setelah melalui proses koordinasi dengan PLN. Peningkatan ini menjadi solusi atas permasalahan yang selama ini menghambat operasional fasilitas kesehatan tersebut.

“Alhamdulillah tahun ini sudah realisasi bulan kemarin. Untuk peningkatan daya di listrik di Puskesmas sudah terealisasi,” ujar Harun.

Harun menjelaskan, sebelum peningkatan daya listrik, Puskesmas sering mengalami masalah ketika menghidupkan peralatan medis bersamaan dengan AC. Daya listrik yang terbatas menyebabkan AC sering mati mendadak atau “jeglek” saat mesin-mesin medis dioperasikan.

“Kendalanya sebelumnya karena dayanya listriknya kurang. Pas hidupin mesin kayak mesin alat-alat medis itu, AC jeglek enggak kuat. Sekarang bulan kemarin sudah kita tingkatkan, alhamdulillah dari PLN sudah ditingkatkan dayanya,” jelasnya.

Peningkatan daya listrik ini menjadi langkah penting untuk memastikan peralatan medis dapat beroperasi optimal tanpa mengganggu kenyamanan pasien dan tenaga medis yang membutuhkan suhu ruangan sejuk.

Meski daya listrik sudah mencukupi, persoalan baru muncul terkait jumlah AC yang masih sangat terbatas. Harun menyebutkan, kondisi ini menjadi pekerjaan rumah (PR) yang harus segera diselesaikan di tahun 2025 mendatang.

“Cuman masalahnya sekarang AC-nya lagi yang mereka kemarin, kendalanya mudah-mudahan di tahun depan bisa dianggarkan dari bantuan dari Dinas Kesehatan maupun Pemkab Kutim untuk AC yang di Puskesmas kami,” ungkapnya.

Menurutnya, kekurangan AC paling terasa di ruang rawat inap dan ruang praktik dokter. Padahal, kenyamanan suhu ruangan sangat penting untuk proses penyembuhan pasien dan kelancaran kerja tenaga medis.

“Di ruang rawat inap apa segala kadang enggak ada AC itu. Sampai per hari ini AC itu masih kekurangan,” tambahnya.

Camat berharap Dinas Kesehatan Kabupaten Kutai Timur dapat mengalokasikan anggaran khusus untuk pengadaan AC di Puskesmas Muara Ancalong pada tahun 2025. Ia telah menyampaikan kebutuhan ini kepada pihak Puskesmas untuk diajukan secara resmi.

“Kemarin cerita-cerita sama orang kesehatan dari Puskesmas, kendalanya mudah-mudahan di tahun depan bisa dianggarkan dari Dinas Kesehatan maupun Pemkab Kutim untuk AC,” harapnya.

Harun menekankan pentingnya penambahan AC, mengingat Muara Ancalong memiliki suhu udara yang cukup panas, terutama pada siang hari. Tanpa AC yang memadai, pasien rawat inap akan merasa tidak nyaman dan dapat memperlambat proses penyembuhan.

Terlepas dari masalah AC, Harun mengapresiasi kerja cepat PLN dalam merealisasikan peningkatan daya listrik Puskesmas. Peningkatan ini dinilai sangat membantu operasional Puskesmas yang harus menjalankan berbagai peralatan medis modern.

“Salah satu waktunya kemarin ceritaan sama Puskesmas untuk peningkatan daya di listrik di Puskesmas, alhamdulillah tahun ini sudah realisasi bulan kemarin dari PLN sudah ditingkatkan dayanya,” katanya.

Dengan daya listrik yang sudah memadai, Puskesmas kini dapat mengoperasikan seluruh peralatan medis secara bersamaan tanpa khawatir terjadi pemadaman atau gangguan listrik. Hal ini sangat penting untuk pelayanan kesehatan yang optimal, terutama dalam kondisi darurat.

Dokter yang bertugas di Puskesmas Muara Ancalong juga menyampaikan pentingnya AC untuk kenyamanan pasien, terutama mereka yang sedang dalam masa pemulihan. Suhu ruangan yang panas dapat membuat pasien gelisah dan menghambat proses penyembuhan.

Selain itu, tenaga medis juga membutuhkan ruangan yang nyaman untuk dapat bekerja secara optimal dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Ruang praktik dokter yang panas dapat menurunkan konsentrasi dan kualitas pemeriksaan.

Harun optimis usulan pengadaan AC untuk Puskesmas Muara Ancalong dapat direalisasikan tahun depan. Ia akan terus berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan dan Pemkab Kutai Timur untuk memastikan kebutuhan ini masuk dalam perencanaan anggaran 2025.

“Kami akan terus mengawal usulan ini. Ini menyangkut kenyamanan dan kesehatan masyarakat kami. Mudah-mudahan tahun depan bisa terealisasi,” pungkasnya. (Adv32)

1,5 Km Jalan Muara Ancalong Masih Terendam Banjir, Akses Warga Terganggu

MUARA ANCALONG, IMENEWS.ID – Sebanyak 1,5 kilometer ruas jalan di Desa Kelinjau Ulu, Kecamatan Muara Ancalong, Kabupaten Kutai Timur masih terendam banjir dan belum tertangani. Kondisi ini sangat mengganggu akses warga dari tujuh desa untuk beraktivitas, terutama saat musim penghujan atau air sungai meluap.

Camat Muara Ancalong, Harun Al Rasyid mengatakan, meskipun telah berhasil menimbun 2,5 kilometer jalan dari target 4 kilometer, masih tersisa 1,5 kilometer yang belum terselesaikan akibat terkendala cuaca buruk.

“Ini kita masih ada kurang 1,5 kilo lagi yang belum kita timbun untuk ditingkatkan. Kalau terjadi banjir masyarakat biasanya itu lewat pakai ketinting, pakai perahu kecil,” ujar Harun. Senin (24/11/2025).

Kondisi jalan yang terendam air memaksa warga menggunakan ketinting atau perahu kecil untuk bisa melintas. Hal ini tentu sangat menyulitkan, terutama bagi mereka yang harus membawa barang bawaan atau dalam kondisi darurat kesehatan.

“Jadi kita harapkan kalau setelah ditimbun ini masyarakat walaupun airnya naik itu tidak banjir sehingga tidak mengganggu aktivitas mereka,” jelasnya.

Harun menjelaskan, ruas jalan dari kilometer 1 sampai kilometer 4 di Desa Kelinjau Ulu merupakan akses vital yang menghubungkan tujuh desa di wilayah Muara Ancalong. Ketika air sungai meluap, jalan benar-benar tertutup air dan tidak bisa dilalui kendaraan bermotor.

Jalan yang kerap terendam banjir ini menjadi akses utama bagi warga dari tujuh desa, yakni Desa Kelinjau Ulu, Desa Senyiur, Desa Longna, Desa Longpok, Desa Teluk Baru, Desa Gemar, dan Desa Longtesak. Kondisi ini sangat menghambat mobilitas dan aktivitas ekonomi masyarakat.

“Di antar desa dari desa-desa Kelinjau ke desa-desa di Hulu maupun Desa Senyur. Seperti Desa Longna, Desa Longpok maupun Desa Teluk Baru. Ada Gemar, ada Desa Longtesak, ada enam desa kami di Hulu sana. Sama Senyur beda arah itu, berarti tujuh,” rinci Harun.

Warga dari ketujuh desa tersebut sangat bergantung pada akses jalan ini untuk berbagai keperluan, mulai dari pergi ke pasar, ke sekolah, ke Puskesmas, hingga mengangkut hasil pertanian dan perkebunan mereka.

Dampak banjir yang merendam jalan sangat dirasakan oleh masyarakat. Anak-anak sekolah kesulitan pergi ke sekolah, warga yang sakit tidak bisa segera dibawa ke fasilitas kesehatan, dan distribusi barang kebutuhan pokok terhambat.

“Sehingga tidak mengganggu akses di antar desa, dari desa-desa Kelinjau ke desa-desa di Hulu maupun Desa Senyur,” ungkap Harun menekankan pentingnya penyelesaian penimbunan jalan tersebut.

Petani dan nelayan juga mengalami kerugian ekonomi karena kesulitan mengangkut hasil panen atau tangkapan mereka ke pasar. Biaya transportasi menjadi lebih mahal karena harus menggunakan perahu, sementara volume barang yang bisa diangkut terbatas.

Harun menjelaskan, penimbunan jalan sempat berjalan lancar dengan dukungan delapan perusahaan yang menyediakan alat berat dan material. Namun, cuaca buruk dengan intensitas hujan tinggi memaksa pekerjaan dihentikan sementara.

“Kita tinggal nunggu mau kita lanjutkan kemarin terkendala cuaca ini. Kemarin kan sudah penimbunan 2,5 kilo, kira kurang 1,5 kilo ini ternyata kendala cuaca hujan lagi, akhirnya stop semua alat-alat perusahaan ditarik lagi,” jelasnya.

Alat-alat berat dari PT TPA, PT BTPCS, PT Triple S, PT CDM, PT BTKMS, PT BTSAS, PT PBA, dan PT Info Tani terpaksa ditarik untuk menghindari kerusakan dan demi keselamatan pekerja. Pekerjaan akan dilanjutkan kembali begitu kondisi cuaca membaik.

Muara Ancalong memiliki karakteristik geografis yang flat (datar) dan merupakan daerah basah. Wilayah ini termasuk dalam kawasan lahan basah Mesangat Sui yang memiliki ketinggian hampir sama dengan permukaan sungai.

“Daerah di sini ini daerah basah. Dan ini masuk di kawasan Mesangat Sui itu kawasan lahan basah,” jelas Harun.

Kondisi geografis ini membuat wilayah Muara Ancalong sangat rentan terhadap banjir, terutama saat musim penghujan atau saat air sungai pasang. Jalan yang tidak ditinggikan akan langsung terendam air dan tidak bisa dilalui.

Meski penimbunan jalan telah dilakukan, Harun menyadari bahwa ini hanya solusi temporer. Ia berharap program Multi Years dari pemerintah pusat dapat segera masuk untuk memberikan solusi permanen.

“Harapan kami mudah-mudahan di tahun depan kelanjutan dari program Multi Years bisa segera masuk sehingga tidak mengganggu akses,” harapnya.

Program Multi Years dinilai penting untuk membangun struktur jalan yang lebih kuat dan permanen, lengkap dengan sistem drainase yang baik sehingga tidak mudah terendam saat banjir.

Kondisi jalan yang terendam banjir tidak hanya berdampak pada mobilitas fisik, tetapi juga pada aspek sosial dan ekonomi masyarakat. Biaya hidup menjadi lebih mahal karena distribusi barang terhambat, harga barang kebutuhan pokok melonjak.

Anak-anak yang sekolah di kecamatan sering terlambat atau bahkan tidak bisa masuk sekolah sama sekali saat banjir. Hal ini tentu mengganggu proses pendidikan mereka dan berpotensi menurunkan kualitas SDM di masa depan.

Dari sisi kesehatan, akses ke Puskesmas yang terhambat membuat warga kesulitan mendapatkan pelayanan kesehatan, terutama dalam kondisi darurat. Beberapa kasus penyakit terlambat ditangani karena kendala transportasi.

Harun berkomitmen akan segera menyelesaikan penimbunan sisa 1,5 kilometer begitu kondisi cuaca memungkinkan. Ia akan kembali berkoordinasi dengan delapan perusahaan yang telah mendukung program ini.

“Kita mungkin cuman kita tinggal nunggu mau kita lanjutkan. Alhamdulillah sudah semua target kayak penimbunan tadi sudah selesai semua, tinggal melanjutkan yang 1,5 kilo lagi,” tegasnya optimis.

Camat juga akan mengajukan bantuan tambahan kepada Pemkab Kutai Timur jika diperlukan, baik berupa material maupun alat berat untuk mempercepat penyelesaian pekerjaan.

Masyarakat dari ketujuh desa sangat mengharapkan penyelesaian penimbunan jalan ini. Mereka berharap setelah selesai, aktivitas sehari-hari tidak lagi terganggu meski terjadi banjir.

“Harapan masyarakat sangat besar. Mereka sudah lelah harus bolak-balik pakai perahu kalau banjir. Apalagi kalau bawa barang banyak atau ada yang sakit, sangat menyulitkan,” ungkap Harun mewakili aspirasi warga.

Penyelesaian 1,5 kilometer jalan yang tersisa diharapkan dapat segera terealisasi sebelum musim penghujan benar-benar tiba. Dengan demikian, masyarakat tidak perlu lagi mengalami kesulitan akses seperti tahun-tahun sebelumnya. (Adv35)

Puskesmas Muara Ancalong Kekurangan Dokter dan Obat, Kendala Pelayanan Kesehatan

MUARA ANCALONG, IMENEWS.ID – Puskesmas Muara Ancalong, Kabupaten Kutai Timur masih menghadapi kendala serius dalam memberikan pelayanan kesehatan optimal kepada masyarakat. Kekurangan tenaga dokter dan obat-obatan menjadi persoalan utama yang belum terselesaikan hingga saat ini.

Camat Muara Ancalong, Harun Al Rasyid mengakui bahwa tenaga kesehatan, khususnya dokter di Puskesmas setempat masih sangat minim. Kondisi serupa juga dialami oleh RSUD Muara Bengkal yang notabene merupakan rumah sakit rujukan di wilayah tersebat.

“Yang jelas tenaga kesehatan khususnya dokternya itu masih kurang. Untuk tenaga kesehatannya ya tetap kurang. Dokter-dokternya itu masih kurang,” ungkap Harun.

Selain kekurangan dokter, Harun juga menyoroti keterbatasan ketersediaan obat-obatan di Puskesmas.

Menurutnya, obat yang tersedia umumnya hanya obat-obatan generik biasa, sementara obat-obatan paten atau berkualitas lebih baik masih sangat terbatas.

“Yang kurang lagi itu terkadang obat-obatannya. Obat-obatannya itu biasanya lebih ke obat-obatan yang kurang paten ya, obat-obatan yang biasa-biasa saja itu mungkin ya. Mau enggak mau karena memang keterbatasan obat,” jelasnya.

Keterbatasan ini tentu berdampak pada kualitas pelayanan kesehatan yang dapat diberikan kepada masyarakat. Pasien dengan penyakit tertentu yang memerlukan obat khusus terpaksa harus membeli sendiri atau dirujuk ke rumah sakit di kota. Senin (24/11/2025).

Harun menjelaskan bahwa persoalan kekurangan dokter bukan hanya terjadi di Muara Ancalong, tetapi juga di Muara Bengkal yang memiliki RSUD. Ia menyebutkan, kesulitan merekrut dokter disebabkan oleh faktor geografis dan keterbatasan peluang kerja sampingan.

“Kenapa agak susah untuk penambahan tenaga kesehatan ini khususnya di Muara Ancalong dan Muara Bengkal? Karena biasanya dokter ini inginnya kalau kerja itu enggak di satu tempat. Biasanya dia ngambil job di beberapa titik ya, beberapa tempat,” ungkapnya.

Menurutnya, dokter umumnya membutuhkan kesempatan untuk praktik di beberapa tempat guna menambah penghasilan. Namun di Muara Ancalong dan Muara Bengkal, fasilitas kesehatan sangat terbatas, tidak seperti di Sangatta yang memiliki banyak rumah sakit dan klinik.

“Kalau misalnya mereka itu cuman di satu tempat, dari segi penghasilan tuh kurang. Memang kendalanya di daerah kami ini sangat sedikit tempat-tempat rumah sakit, enggak kayak seperti di Sangatta,” jelasnya.

Harun membandingkan kondisi di wilayahnya dengan Sangatta yang memiliki berbagai fasilitas kesehatan. Di Sangatta, dokter bisa praktik di RS Ude sambil juga melayani di Rumah Sakit Meloy, UPTD, SOAC, atau fasilitas kesehatan lainnya.

“Dokter di RS Ude bisa nyambi di Rumah Sakit Meloy, bisa nyambi di UPTD, atau di SOAC. Nah, itu enggak ada yang di Muara Ancalong nih. Sehingga ketertarikan dari teman-teman dokter mungkin banyak yang kurang, khususnya dokter-dokter spesialis yang dibutuhkan di Muara Ancalong,” paparnya.

Ketiadaan fasilitas kesehatan alternatif membuat peluang dokter untuk menambah penghasilan sangat terbatas. Hal inilah yang menjadi penghambat utama dalam menarik minat dokter untuk bertugas di wilayah terpencil.

Meski mengakui ada upaya dari Dinas Kesehatan untuk menambah tenaga medis, Harun menyatakan implementasinya masih belum optimal. Diperlukan solusi konkret untuk menarik minat dokter bertugas di daerah terpencil.

“Kalau upaya nakes ada. Saya pikir ada solusi dari Dinas Kesehatan cuman hanya saja bagaimana kita ini menarik minat dari dokter-dokter ingin bekerja di daerah kami ini,” ungkapnya.

Harun berharap ada kebijakan khusus dari Dinas Kesehatan Kabupaten Kutai Timur, misalnya dengan memberikan insentif tambahan atau skema penghasilan yang lebih menarik bagi dokter yang bersedia bertugas di wilayah terpencil seperti Muara Ancalong dan Muara Bengkal.

Kekurangan dokter dan obat-obatan ini berdampak langsung pada pelayanan kesehatan masyarakat. Warga yang memerlukan penanganan medis serius terpaksa harus menempuh perjalanan jauh ke Sangatta atau bahkan ke Balikpapan dan Samarinda.

Kondisi geografis yang sulit, ditambah minimnya transportasi publik, membuat biaya pengobatan menjadi sangat mahal. Belum lagi waktu yang tersita dalam perjalanan, terutama bagi pasien dengan kondisi darurat.

Kehadiran program Dokter Share yang baru saja berlangsung di Muara Ancalong dinilai sangat membantu, namun sifatnya hanya temporer. Yang dibutuhkan adalah solusi permanen untuk memastikan masyarakat mendapat akses layanan kesehatan berkualitas sepanjang tahun.

Harun mengharapkan perhatian serius dari Pemerintah Kabupaten Kutai Timur dan Dinas Kesehatan untuk segera mengatasi persoalan ini, baik melalui peningkatan anggaran, perbaikan fasilitas, maupun kebijakan insentif khusus bagi tenaga medis di daerah terpencil. (Adv31)

Penimbunan Jalan 2,5 Km Atasi Banjir di Kelinjau Ulu, 8 Perusahaan Bahu-Membahu

MUARA ANCALONG, IMENEWS.ID – Delapan perusahaan yang beroperasi di Kecamatan Muara Ancalong bergotong royong menimbun jalan sepanjang 2,5 kilometer di Desa Kelinjau Ulu untuk mengatasi masalah banjir yang selama ini mengganggu aktivitas masyarakat. Program ini merupakan inisiatif yang diinstruksikan langsung oleh Bupati dan Wakil Bupati Kutai Timur.

Camat Muara Ancalong, Harun Al Rasyid mengatakan, penimbunan jalan ini menjadi solusi atas permasalahan banjir yang kerap melanda ruas jalan dari kilometer 1 sampai kilometer 4 di Desa Kelinjau Ulu, terutama saat musim penghujan atau air sungai meluap.

“Perbaikan jalan karena jalan kami ini khususnya dari kilo 1 sampai kilo 4 Desa Kelinjau Ulu itu kalau misalnya air naik, banjir, jalannya tertutup sehingga kami kemarin berinisiatif dari yang diinstruksikan langsung oleh Pak Bupati dan Wakil Bupati untuk penimbunan jalan,” ujar Harun.

Harun menyebutkan, delapan perusahaan yang beroperasi di sekitar Muara Ancalong memberikan dukungan penuh dalam program penimbunan jalan ini. Mereka menyediakan alat berat, material timbunan, dan tenaga kerja secara sukarela.

“Kemarin kita udah nimbun sekitar 2,5 kilo dibantu oleh perusahaan-perusahaan sekitar. Dibantu dan disupport oleh perusahaan-perusahaan sekitar di Muara Ancalong,” jelasnya.

Kedelapan perusahaan yang terlibat dalam program ini adalah PT TPA, PT BTPCS, PT Triple S, PT CDM, PT BTKMS, PT BTSAS, PT PBA, dan PT Info Tani. Kolaborasi antara pemerintah kecamatan dan sektor swasta ini menjadi contoh nyata kemitraan yang saling menguntungkan.

“Dari PT TPA, BTPCS, Triple S dan CDM, BTKMS, BTSAS, PT PBA dan Info Tani,” rinci Harun menyebutkan satu per satu perusahaan yang berkontribusi.

Sebelum penimbunan dilakukan, kondisi jalan yang terendam banjir sangat menyulitkan warga. Ketika air sungai meluap, jalan benar-benar tertutup air sehingga kendaraan bermotor tidak bisa melintas.

“Kalau terjadi banjir, masyarakat biasanya itu lewat pakai ketinting, pakai perahu kecil. Jadi kita harapkan kalau setelah ditimbun ini masyarakat walaupun airnya naik itu tidak banjir sehingga tidak mengganggu aktivitas mereka,” ungkap Harun.

Kondisi ini tentu sangat menghambat aktivitas ekonomi dan sosial masyarakat. Anak-anak kesulitan pergi ke sekolah, warga yang sakit tidak bisa segera dibawa ke Puskesmas, dan distribusi barang kebutuhan pokok terganggu.

Meski telah berhasil menimbun 2,5 kilometer, Harun menyebutkan masih tersisa sekitar 1,5 kilometer lagi yang belum ditimbun untuk mencapai target 4 kilometer. Program ini sempat terhenti karena kendala cuaca. Senin (24/11/2025).

“Ini kita masih ada kurang 1,5 kilo lagi yang belum kita timbun untuk ditingkatkan. Kita tinggal nunggu mau kita lanjutkan kemarin terkendala cuaca ini. Kemarin kan sudah penimbunan 2,5 kilo, kira kurang 1,5 kilo ini ternyata kendala cuaca hujan lagi, akhirnya stop semua alat-alat perusahaan ditarik lagi,” jelasnya.

Cuaca hujan yang terus menerus membuat pekerjaan penimbunan terpaksa dihentikan sementara. Alat-alat berat dari perusahaan-perusahaan ditarik kembali untuk menghindari kerusakan dan demi keselamatan pekerja.

Harun berharap program penimbunan jalan ini bisa dilanjutkan dengan program yang lebih permanen dari pemerintah. Ia menyebutkan program Multi Years dari pemerintah pusat diharapkan segera masuk untuk melanjutkan perbaikan infrastruktur jalan secara menyeluruh.

“Dan harapan kami mudah-mudahan di tahun depan kelanjutan dari program Multi Years bisa segera masuk sehingga tidak mengganggu akses di antar desa, dari desa-desa Kelinjau ke desa-desa di Hulu maupun Desa Senyur,” harapnya.

Program Multi Years dinilai penting untuk memberikan solusi jangka panjang terhadap masalah infrastruktur jalan di Muara Ancalong. Penimbunan yang dilakukan saat ini hanya bersifat temporer dan perlu diperkuat dengan struktur jalan yang lebih permanen.

Harun menjelaskan, jalan yang kerap terendam banjir ini merupakan akses utama menghubungkan beberapa desa di wilayah Muara Ancalong. Desa-desa yang terdampak antara lain Desa Kelinjau Ulu, Desa Senyur, serta desa-desa di wilayah Hulu seperti Desa Longna, Desa Longpok, Teluk Baru, Gemar, dan Desa Longtesak.

“Di antar desa dari desa-desa Kelinjau ke desa-desa di Hulu maupun Desa Senyur. Seperti Desa Longna, Desa Longpok maupun Desa Teluk Baru. Ada Gemar, ada Desa Longtesak, ada enam desa kami di Hulu sana. Sama Senyur beda arah itu, berarti tujuh desa,” paparnya.

Kondisi jalan yang buruk ini tidak hanya berdampak pada mobilitas warga, tetapi juga menghambat distribusi logistik, akses pendidikan, dan pelayanan kesehatan ke desa-desa tersebut.

Camat mengapresiasi tinggi dukungan dari kedelapan perusahaan yang telah membantu program penimbunan jalan ini. Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah dan sektor swasta seperti ini perlu terus dikembangkan untuk mempercepat pembangunan infrastruktur di daerah.

“Kemarin kita sudah penimbunan 2,5 kilo, untuk kegiatan-kegiatan kami alhamdulillah sudah semua target kayak penimbunan tadi sudah selesai semua,” ungkapnya.

Dukungan CSR dari perusahaan-perusahaan ini dinilai sangat membantu, mengingat keterbatasan anggaran pemerintah daerah. Dengan bantuan alat berat dan material dari perusahaan, pekerjaan dapat diselesaikan lebih cepat dan efisien.

Harun menjelaskan, karakteristik wilayah Muara Ancalong yang flat (datar) dan merupakan daerah basah membuat masalah banjir menjadi tantangan tersendiri. Wilayah ini termasuk dalam kawasan lahan basah Mesangat Sui yang memiliki ekosistem unik.

“Untuk di Kelinjau sendiri kalau di Desa Kelinjau Ilir dan Ulu tidak bisa sementara kami buatkan tempat TPS atau TPA karena memang daerahnya flat sehingga daerah di sini ini daerah basah. Dan ini masuk di kawasan Mesangat Sui itu kawasan basah,” jelasnya.

Kondisi geografis ini membuat pembangunan infrastruktur memerlukan pendekatan khusus. Penimbunan jalan harus dilakukan dengan ketinggian yang cukup agar tidak tergenang saat air pasang atau musim hujan.

Meski terkendala cuaca, Harun berkomitmen akan segera melanjutkan penimbunan sisa 1,5 kilometer begitu kondisi memungkinkan. Ia akan kembali berkoordinasi dengan perusahaan-perusahaan untuk menyelesaikan pekerjaan ini.

“Alhamdulillah sudah semua target kayak penimbunan tadi sudah selesai semua. Kita mungkin cuman kita tinggal nunggu mau kita lanjutkan kemarin terkendala cuaca ini,” tegasnya.

Program penimbunan jalan ini menjadi bukti bahwa pembangunan infrastruktur di daerah terpencil memerlukan sinergi kuat antara pemerintah, swasta, dan masyarakat. Dengan gotong royong dan komitmen bersama, kendala geografis dan keterbatasan anggaran dapat diatasi untuk kesejahteraan masyarakat. (Adv34)