RSU Muara Ancalong Kekurangan Dokter Spesialis, Layanan Terbatas

Muara Bengkal, IMENEWS.ID — Kekurangan tenaga medis spesialis menjadi kendala utama bagi RSU Muara Ancalong dalam memberikan layanan kesehatan yang optimal.

Kondisi ini membuat pasien sering harus dirujuk ke rumah sakit di kabupaten lain untuk mendapatkan penanganan khusus.

Beberapa bidang spesialis seperti anak, bedah, dan penyakit dalam saat ini belum tersedia secara penuh. Dokter umum dan beberapa spesialis, tetapi kebutuhan di beberapa bidang masih belum terpenuhi.

Akibatnya pasien harus menunggu lebih lama atau dirujuk ke rumah sakit lain. Dampak kekurangan dokter spesialis dirasakan langsung oleh masyarakat.

Pihak rumah sakit terus berupaya mencari solusi, termasuk bekerja sama dengan pemerintah daerah dan institusi pendidikan kedokteran untuk menambah jumlah tenaga medis. Rabu (26/11/2025).

Selain itu, RSU Muara Ancalong juga mengoptimalkan layanan dokter umum dan penggunaan telemedicine untuk konsultasi dengan spesialis di tempat lain.

Camat Muara Ancalong Harun Al Rasyid menegaskan, dukungan pemerintah dan kerja sama lintas sektor sangat penting untuk meningkatkan kualitas layanan kesehatan.

“Kekurangan dokter spesialis menjadi perhatian serius kami. Kami akan terus mendorong penambahan tenaga medis agar masyarakat mendapatkan pelayanan kesehatan lebih cepat dan efektif,” ujarnya.

Meskipun menghadapi tantangan, RSU Muara Acalong tetap berkomitmen memberikan layanan terbaik bagi warga, sembari mencari cara agar keterbatasan tenaga spesialis tidak menghambat pelayanan kesehatan yang dibutuhkan masyarakat. (Adv58)

Kendala Geografis Muara Acalong Hambat Pembangunan Infrastruktur

Muara Ancalong, IMENEWS.ID — Pembangunan infrastruktur di Muara Ancalong masih menghadapi tantangan serius akibat kondisi geografis wilayah yang datar dan basah.

Permasalahan ini menyebabkan sebagian proyek berjalan lambat, bahkan membutuhkan biaya lebih besar dibanding wilayah lain.

Camat Muara Ancalong Harun Al Rasyid menjelaskan, sebagian besar wilayah kecamatan berada di dataran rendah yang rawan tergenang saat musim hujan.

“Kondisi tanah yang basah dan sebagian besar datar membuat pembangunan jalan dan jembatan menjadi lebih sulit. Perlu material khusus dan perencanaan matang agar proyek tidak cepat rusak,” ujarnya.

Dampak geografis ini juga memengaruhi akses masyarakat ke layanan publik. Beberapa desa di bagian hulu sulit dijangkau oleh kendaraan besar, sehingga distribusi bahan bangunan dan logistik sering tertunda.

“Kami berharap ada perhatian lebih dari pemerintah provinsi dan kabupaten, termasuk bantuan alat berat dan teknologi konstruksi yang sesuai kondisi setempat,” tambah Harun.

Warga setempat pun merasakan langsung kesulitan ini. Meski begitu, pemerintah kecamatan tetap berupaya mencari solusi inovatif. Mulai dari pembangunan jalan dengan material lebih kuat, sistem drainase yang memadai, hingga melibatkan masyarakat dalam perawatan infrastruktur.

Harun, kerja sama antara pemerintah, masyarakat, dan pihak swasta sangat dibutuhkan agar kendala geografis tidak menjadi penghambat utama pembangunan. Dengan langkah tepat, Muara Calong tetap berpotensi berkembang dan meningkatkan kesejahteraan warganya. (Adv57)

Camat Apresiasi Bantuan CSR 8 Perusahaan untuk Pembangunan Desa

Muara Ancalong, IMENEWS.ID — Bantuan dari program Corporate Social Responsibility (CSR) yang digulirkan oleh delapan perusahaan di Kutai Timur mendapat apresiasi dari pemerintah kecamatan setempat.

Bantuan ini difokuskan pada pembangunan infrastruktur, sarana pendidikan, dan fasilitas umum yang selama ini menjadi kebutuhan mendesak masyarakat.

Camat Muara Ancalong, Harun Al Rasyid mengungkapkan bahwa kontribusi perusahaan melalui CSR sangat membantu percepatan pembangunan di wilayahnya.

“Kami menyampaikan terima kasih atas dukungan delapan perusahaan yang telah berpartisipasi. Bantuan ini nyata manfaatnya bagi masyarakat, mulai dari perbaikan jalan desa, pembangunan fasilitas PAUD, hingga sarana air bersih,” ujarnya. Rabu (26/11/2025).

Ia menambahkan, bahwa selama ini keterbatasan anggaran pemerintah kecamatan membuat beberapa program pembangunan berjalan lambat. Kehadiran CSR membantu menutup kekurangan tersebut dan mempercepat pelayanan bagi masyarakat.

“Ini bentuk kolaborasi yang positif. Pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta bisa bekerja sama untuk meningkatkan kualitas hidup warga,” kata Harun.

Menurutnya, bantuan CSR tidak hanya berbentuk fisik, tetapi juga program pendukung seperti pelatihan keterampilan dan kesehatan.

“Kami harap perusahaan terus berinovasi dalam program CSR-nya sehingga dampaknya lebih luas. Selain pembangunan infrastruktur, program pemberdayaan masyarakat juga sangat dibutuhkan,” tambahnya.

Beberapa warga yang menerima manfaat langsung dari bantuan CSR menyatakan rasa syukur dan berharap kolaborasi serupa terus berlanjut.

Menurut mereka, kehadiran perusahaan melalui CSR membawa perubahan nyata dan membuat mereka merasa diperhatikan.

Camat menegaskan, pihaknya akan terus menjembatani komunikasi antara masyarakat dan perusahaan agar bantuan CSR dapat tepat sasaran dan memberikan manfaat jangka panjang.

Ia optimistis bahwa dukungan sektor swasta melalui CSR akan mendorong percepatan pembangunan dan meningkatkan kesejahteraan warga Muara Ancalong secara berkelanjutan. (Adv56)

50 Program Pemkab Kutim: Layanan Kesehatan Keliling Mulai Menjangkau Pelosok Muara Ancalong

Muara Ancalong, IMENEWS.ID — Program layanan kesehatan keliling yang menjadi bagian dari 50 Program Unggulan Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) mulai dirasakan manfaatnya oleh masyarakat di wilayah pelosok, termasuk di Kecamatan Muara Ancalong.

Program yang dijalankan melalui puskesmas dan tenaga medis lapangan ini dinilai mampu memberikan akses kesehatan lebih merata, terutama bagi warga yang tinggal jauh dari pusat kecamatan.

Camat Muara Ancalong, Harun Al Rasyid mengatakan bahwa pelayanan kesehatan keliling sangat membantu warga di desa-desa terpencil yang sebelumnya sulit menjangkau fasilitas kesehatan.

“Ada desa yang jaraknya belasan kilometer dari pusat kecamatan, dan akses jalannya tidak selalu baik. Program kesehatan keliling ini membuat layanan dasar seperti pemeriksaan ibu hamil, imunisasi, hingga cek kesehatan umum bisa menjangkau mereka,” ujarnya. Rabu (26/11/2025).

Ia mengungkapkan bahwa beberapa desa yang berada di bantaran sungai maupun kawasan hulu menjadi prioritas kunjungan tim medis karena letaknya yang cukup jauh.

Menurutnya, keberadaan tenaga kesehatan yang datang langsung ke desa telah meningkatkan kesadaran masyarakat untuk memeriksakan kondisi kesehatan secara rutin.

“Warga antusias. Mereka merasa lebih diperhatikan karena petugas datang langsung. Banyak yang bilang kalau program seperti ini harus terus berlanjut,” tambahnya.

Meski begitu, Harun menilai bahwa program kesehatan keliling perlu didukung dengan penambahan armada dan peralatan medis agar layanan bisa lebih maksimal.

Ia berharap pemerintah kabupaten dapat memperkuat fasilitas puskesmas dan memastikan ketersediaan tenaga medis tetap terpenuhi.

“Petugas kita bekerja keras. Kalau armadanya ditambah dan peralatannya lebih lengkap, jangkauan ke pelosok bisa semakin luas,” tegasnya.

Ia menekankan bahwa pemerataan akses kesehatan merupakan kebutuhan mendesak bagi wilayah-wilayah yang kondisi geografisnya menantang.

Dengan berjalannya program kesehatan keliling, ia optimistis kualitas layanan kesehatan masyarakat Muara Ancalong akan terus meningkat dan sejalan dengan komitmen pemerintah kabupaten dalam mewujudkan pelayanan publik yang inklusif. (Adv55)


Lokasi Terpencil Hambat Pengembangan Wisata di Muara Ancalong

Muara Ancalong, IMENEWS.ID — Upaya pengembangan pariwisata di Kecamatan Muara Ancalong, Kutai Timur, masih menghadapi tantangan besar akibat kondisi wilayah yang terpencil dan minimnya akses pendukung.

Meskipun beberapa desa memiliki potensi wisata alam dan budaya yang dapat dikembangkan, keterbatasan infrastruktur membuat sektor pariwisata belum dapat berkembang optimal.

Camat Muara Ancalong, Al Rasyid mengatakan bahwa jarak yang jauh dari pusat kabupaten serta akses jalan yang belum seluruhnya memadai menjadi hambatan utama dalam menarik minat wisatawan.

Menurutnya, desa-desa yang memiliki potensi wisata justru berada di wilayah yang sulit dijangkau.

“Lokasinya memang jauh, dan sebagian jalannya masih belum bagus. Ini yang membuat wisatawan enggan datang, padahal potensi kita sebenarnya sangat besar,” ungkap Harun.

Ia menjelaskan bahwa beberapa destinasi yang tengah coba dikembangkan, seperti kawasan danau, lahan pertanian, dan wisata tumpangsari berbasis perikanan, belum mendapat dukungan fasilitas dasar dari pemerintah kabupaten.

“Kita punya danau, punya spot alam yang bagus, dan warga juga mulai kreatif membuat wisata tumpangsari. Tetapi tanpa akses dan sarana pendukung, pengembangan ini tidak bisa maksimal,” ujarnya.

Camat menambahkan bahwa pemerintah kecamatan sudah berulang kali mengusulkan peningkatan infrastruktur pendukung wisata melalui musrenbang maupun laporan resmi.

Namun sebagian besar belum terealisasi. Ia menegaskan bahwa masyarakat memiliki semangat untuk membangun wilayahnya, tetapi membutuhkan kehadiran dinas terkait untuk mempercepat perkembangan pariwisata.

“Saya selalu sampaikan bahwa masyarakat kita siap, tapi butuh dukungan. Tanpa bantuan kabupaten, sulit bagi kami membangun destinasi yang layak dikunjungi,” katanya.

Menurutnya, perbaikan akses jalan, pembangunan fasilitas umum, dan program promosi dari pemerintah kabupaten akan menjadi langkah awal yang penting untuk membuka isolasi wisata Muara Ancalong.

Ia berharap ke depan sektor pariwisata dapat menjadi sumber ekonomi baru bagi warga, asalkan hambatan geografis dapat diatasi melalui pembangunan yang terarah. (Adv53)

 

Desa-Desa di Muara Ancalong Kembangkan Wisata Tumpangsari, Padukan Perikanan, Pertanian dan Pariwisata

Muara Ancalong, IMENEWS.ID — Sejumlah desa di Kecamatan Muara Ancalong, Kutai Timur, mulai mengembangkan konsep wisata tumpangsari yang memadukan sektor perikanan, pertanian, dan pariwisata.

Konsep ini muncul sebagai terobosan untuk mendorong ekonomi masyarakat melalui pemanfaatan lahan produktif, sekaligus menawarkan pengalaman wisata berbasis alam dan edukasi.

Camat Muara Ancalong, Al Rasyid menjelaskan bahwa beberapa desa telah menunjukkan inisiatif kuat untuk mengolah potensi lokal mereka menjadi daya tarik wisata.

Menurutnya, pola tumpangsari memungkinkan masyarakat tetap menjalankan aktivitas bertani dan berbudidaya ikan, sambil menghadirkan spot rekreasi yang menarik bagi pengunjung.

“Konsep wisata tumpangsari ini sangat cocok untuk desa-desa di Muara Ancalong. Lahan pertanian dan kolam ikan yang sudah ada tinggal dikemas menjadi objek wisata edukatif. Potensinya besar,” ujar Harun. Rabu (26/11/2025).

Ia menyebut bahwa beberapa desa mulai membuat area kolam ikan terpadu yang dilengkapi jalur tracking ringan, gazebo sederhana, hingga kebun sayur yang dapat dipetik langsung oleh pengunjung.

Selain itu, warga juga menyiapkan produk olahan lokal untuk mendukung kegiatan wisata.

“Yang menarik, warga tidak kehilangan fungsi utama lahan. Mereka tetap panen ikan, tetap menanam sayur, tapi ada nilai tambah dari pengunjung yang datang. Ini yang ingin kita dorong,” tambahnya.

Meski demikian, pengembangan wisata tumpangsari masih memerlukan sentuhan pemerintah kabupaten, terutama terkait pembinaan dan peningkatan fasilitas dasar.

Camat menegaskan pentingnya dukungan dinas terkait agar program wisata desa tidak berhenti di tengah jalan.

“Kalau fasilitas pendukungnya dibantu seperti akses jalan, spot foto, dan pelatihan pengelolaan wisata saya yakin ini bisa jadi unggulan. Warga sudah punya semangat, tinggal bagaimana pemerintah hadir memperkuat,” tegasnya.

Ia berharap konsep wisata tumpangsari dapat berkembang di seluruh desa di Muara Ancalong dan menjadi model pemberdayaan ekonomi yang berkelanjutan.

Menurutnya, sinergi sektor perikanan, pertanian, dan pariwisata adalah peluang besar untuk meningkatkan pendapatan masyarakat tanpa meninggalkan identitas lokal. (Adv52)

Potensi Wisata Danau Teluk Putih Belum Tergarap, Minim Sarana dan Prasarana

Muara Ancalong, IMENEWS.ID — Danau Teluk Putih di Kecamatan Muara Ancalong, Kutai Timur, memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata alam.

Keindahan hamparan air yang dikelilingi pepohonan serta suasana tenang yang menjadi ciri khas kawasan tersebut dinilai mampu menarik wisatawan lokal maupun luar daerah.

Namun hingga kini, potensi itu belum tergarap maksimal karena terbatasnya sarana dan prasarana pendukung. Rabu (26/11/2025).

Camat Muara Ancalong, Al Rasyid menyampaikan bahwa Danau Teluk Putih sebenarnya sudah cukup dikenal oleh warga setempat sebagai lokasi rekreasi alami.

Meski demikian, pemerintah kecamatan belum bisa berbuat banyak karena belum ada dukungan fasilitas dasar dari pemerintah kabupaten.

“Kalau bicara potensi, Danau Teluk Putih ini sangat layak dikembangkan. Pemandangannya bagus, aksesnya juga tidak terlalu sulit. Tapi fasilitasnya hampir tidak ada, sehingga wisatawan enggan datang,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa hingga saat ini belum tersedia fasilitas seperti dermaga kecil, gazebo, toilet umum, area parkir, maupun papan informasi yang seharusnya menjadi standar minimal destinasi wisata.

“Kita ingin kembangkan kawasan ini, tapi dengan kondisi sarana yang minim, sulit untuk mendorong pertumbuhan wisata. Harus ada intervensi pemerintah daerah, terutama dari dinas terkait,” tambahnya.

Menurutnya, pemerintah kecamatan telah beberapa kali menyampaikan usulan pengembangan Danau Teluk Putih agar dapat masuk dalam program pembangunan pariwisata di Kutai Timur.

Namun realisasinya masih menunggu tindak lanjut. “Kami sudah sampaikan dalam musrenbang dan laporan resmi. Tinggal bagaimana kabupaten bisa melihat peluang ini. Warga juga berharap danau ini bisa jadi destinasi unggulan,” katanya.

Camat menegaskan bahwa pengembangan wisata Danau Teluk Putih tidak hanya berdampak pada peningkatan kunjungan, tetapi juga dapat membuka peluang ekonomi masyarakat sekitar melalui usaha kuliner, penyewaan perahu, hingga kegiatan UMKM.

Ia berharap pemerintah kabupaten dapat memberikan perhatian serius agar potensi wisata alam di Muara Ancalong tidak terus terbengkalai.

“Sayang sekali jika potensi sebagus ini dibiarkan begitu saja. Dengan sedikit pembangunan, Danau Teluk Putih bisa menjadi ikon wisata kecamatan,” tegasnya. (Adv51)

Karang Taruna Muara Ancalong Aktif di Olahraga, Namun Masih Butuh Dukungan Dispora

Muara Ancalong, IMENEWS.ID — Aktivitas kepemudaan di Kecamatan Muara Ancalong menunjukkan perkembangan positif, terutama melalui Karang Taruna yang aktif menyelenggarakan berbagai kegiatan olahraga seperti sepak bola, voli, dan bulu tangkis.

Meski demikian, semangat para pemuda ini belum sepenuhnya ditopang oleh fasilitas dan dukungan memadai dari pemerintah daerah, khususnya Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kutai Timur.

Camat Muara Ancalong, Al Rasyid mengatakan bahwa Karang Taruna di wilayahnya memiliki peran besar dalam menjaga dinamika kepemudaan.

Namun, ia mengakui bahwa perkembangan organisasi ini masih terhambat oleh keterbatasan sarana dan perhatian dari instansi terkait.

“Kegiatan olahraga di sini cukup hidup. Anak-anak main bola, voli, bulu tangkis hampir setiap minggu. Tapi kalau bicara fasilitas dan pembinaan, itu masih kurang. Karang Taruna butuh dukungan dari Dispora,” ujarnya. Rabu (26/11/2025).

Ia menambahkan bahwa meski semangat pemuda sangat tinggi, mereka sering kali harus menggunakan tempat seadanya untuk latihan maupun perlombaan.

Di sisi lain, beberapa cabang olahraga justru telah mencatatkan prestasi tingkat nasional, seperti atlet kriket asal Muara Ancalong yang baru-baru ini menorehkan prestasi di Bali.

“Potensi pemuda kita besar. Bahkan ada yang sudah juara nasional. Tapi kalau tidak didukung, perkembangan mereka bisa terhambat,” katanya.

Camat berharap Dispora Kutai Timur dapat memberikan perhatian lebih, baik dalam bentuk bantuan perlengkapan olahraga, peningkatan fasilitas lapangan, maupun program pembinaan terstruktur bagi Karang Taruna.

“Mereka sudah menunjukkan kerja nyata, tinggal kita yang harus hadir memberi support. Jangan sampai semangat ini padam hanya karena fasilitas tidak mendukung,” tegasnya.

Ia menilai bahwa dukungan pemerintah sangat penting untuk memastikan generasi muda tetap aktif, produktif, dan terhindar dari aktivitas yang tidak bermanfaat.

Dengan fasilitas yang layak serta pembinaan yang tepat, ia meyakini Karang Taruna Muara Ancalong dapat menjadi contoh kemajuan kepemudaan di Kutai Timur. (Adv50)

Atlet Kriket Muara Ancalong Raih Juara Nasional, Minim Dukungan Fasilitas

Muara Ancalong, IMENEWS.ID — Prestasi membanggakan datang dari Kecamatan Muara Ancalong, Kutai Timur, setelah atlet kriket asal wilayah tersebut berhasil meraih Juara 3 kategori T10 pada ajang Bali Jimbaran Series National Cricket Tournament.

Meski telah mengharumkan nama daerah di kancah nasional, para atlet masih bergulat dengan minimnya fasilitas latihan dan kurangnya dukungan dari instansi terkait.

Camat Muara Ancalong, Al Rasyid menjelaskan bahwa cabang olahraga kriket di daerahnya sebenarnya memiliki potensi besar, namun perhatian yang diberikan belum sebanding dengan prestasi yang dihasilkan.

“Anak-anak kita ini sudah sampai level nasional, tapi fasilitas latihan mereka sangat terbatas. Lapangan belum memadai, peralatannya juga masih seadanya,” ujarnya dalam wawancara.

Ia mengungkapkan bahwa pihak kecamatan telah berusaha menyampaikan kondisi tersebut kepada Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kutai Timur agar ada perhatian lebih bagi cabang olahraga yang mulai berkembang ini.

“Saya sudah WA langsung ke Kepala Dispora. Saya bilang, ‘Pak, mohon disupport ini anak-anak cricket, karena mereka sudah juara nasional.’ Tapi sampai sekarang dukungan yang datang masih sangat minim,” ungkapnya. Rabu (26/11/2025).

Menurut Camat, kurang populernya olahraga kriket di masyarakat menjadi salah satu alasan cabang ini belum mendapat dukungan maksimal. Padahal, sambungnya, atlet daerah yang berprestasi semestinya justru menjadi prioritas pembinaan.

“Kriket ini memang belum banyak dikenal, mungkin itu sebabnya kurang diperhatikan. Padahal prestasinya sudah jelas. Sayang kalau tidak kita dukung,” katanya.

Ia berharap adanya fasilitas latihan yang layak, mulai dari lapangan khusus hingga perlengkapan standar, agar prestasi atlet kriket dari Muara Ancalong dapat terus berkembang.

“Kalau anak-anak ini difasilitasi dengan baik, saya yakin prestasi mereka akan lebih tinggi lagi. Jangan sampai potensi ini hilang karena kurangnya dukungan,” tegasnya.

Prestasi atlet kriket Muara Ancalong di tingkat nasional menjadi bukti bahwa daerah terpencil pun mampu melahirkan talenta olahraga yang kompetitif.

Kini, dukungan pemerintah daerah menjadi kunci untuk memastikan para atlet tidak hanya sekali mengukir prestasi, tetapi dapat terus berkembang dan membawa nama Kutai Timur di panggung olahraga nasional. (Adv49)

Warga Masih Buang Sampah ke Sungai, Muara Ancalong Belum Miliki TPS/TPA yang Memadai

Muara Ancalong, IMENEWS.ID — Masalah sampah di Kecamatan Muara Ancalong, Kutai Timur, masih menjadi persoalan serius karena hingga kini wilayah tersebut belum memiliki Tempat Pembuangan Sementara (TPS) maupun Tempat Pengolahan Akhir (TPA) yang layak.

Akibatnya, sebagian warga masih membuang sampah langsung ke sungai dan parit, terutama di desa-desa yang berada di sekitar kawasan Lahan Basah Mesangat–Suwi.

Camat Muara Ancalong, Al Rasyid mengakui bahwa perilaku membuang sampah ke sungai bukan semata-mata karena kurangnya kesadaran masyarakat, melainkan karena ketiadaan fasilitas pembuangan yang dapat menampung sampah rumah tangga. “Saya sering lihat sendiri masyarakat masih membuang sampah dari pinggir sungai atau jembatan. Mereka sebetulnya bukan tidak mau tertib, tapi memang belum ada tempat pembuangan yang bisa digunakan,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa wilayah seperti Kelinjau Ilir dan Kelinjau Ulu memiliki keterbatasan lahan karena merupakan kawasan basah dan habitat satwa dilindungi, sehingga tidak mungkin membangun TPS di area tersebut.

“Daerah kami ini bagian dari lahan basah Mesangat–Suwi. Di situ ada buaya badas, bekantan, dan ikan-ikan lokal. Kalau kita salah menempatkan TPS, itu bisa merusak habitat mereka,” tambahnya. Rabu (26/11/2025).

Meski begitu, kecamatan sebenarnya telah menyiapkan lahan seluas dua hingga empat hektare di Desa Long Na untuk diserahkan sebagai lokasi pembangunan TPS atau TPA terpadu.

Proposal telah diajukan ke Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kutim, namun realisasi pembangunan masih tertunda.

Camat menegaskan bahwa pihaknya berharap DLH tidak hanya menyediakan lokasi pembuangan, tetapi juga fasilitas pengolahan agar sampah tidak sekadar ditimbun.

“Kami tidak mau tempat yang hanya jadi lubang sampah. Harus ada alat pencacah atau pengelolaannya, supaya tidak mencemari rawa dan sungai,” katanya.

Ia menambahkan bahwa tanpa adanya fasilitas resmi, usaha memberikan imbauan kepada warga sering kali tidak berjalan maksimal.

“Setiap ada acara, saya sampaikan agar jangan buang sampah di sungai. Tapi kalau tempatnya tidak ada, masyarakat ini mau diarahkan ke mana? Solusi harus disiapkan dulu,” tegasnya.

Camat berharap pemerintah kabupaten dapat menindaklanjuti kebutuhan ini agar kebiasaan membuang sampah sembarangan dapat ditekan dan ekosistem rawa tetap terjaga.

Menurutnya, masalah sampah di Muara Ancalong bukan hanya menyangkut kebersihan, tetapi juga kelestarian lingkungan yang menjadi rumah satwa dilindungi dan sumber kehidupan masyarakat sekitar. (Adv48)