Oleh : M.Faris T, Mahasiswa Universitas Negeri Surakarta(UNS) asal Kaltim
Musim Liga 1 Indonesia akhirnya resmi berakhir. Beberapa jam setelah peluit terakhir dibunyikan, media sosial langsung dipenuhi berbagai reaksi: perayaan juara, sindiran antar suporter, hingga komentar tentang tim yang dianggap gagal memenuhi ekspektasi.
Di tengah riuhnya euforia tersebut, perhatian saya justru tertuju pada bagaimana publik memandang perjalanan Borneo FC Samarinda musim ini.
Sepanjang musim, Borneo FC tampil sebagai salah satu tim paling konsisten di Liga 1. Mereka menutup musim di posisi runner-up dengan raihan poin yang sama dengan juara liga, yaitu 79 poin, namun kalah head to head dari Persib Bandung.
Secara produktivitas gol, Borneo FC bahkan tampil lebih tajam dengan torehan 67 gol dan selisih gol +43, lebih baik dibanding Persib yang memiliki selisih gol +37.
Lalu mengapa Borneo FC tidak bisa menjadi juara meski poin sama? Jawabannya ada pada regulasi kompetisi. Berdasarkan aturan Liga 1, apabila dua tim memiliki poin identik di akhir musim, penentu peringkat utama bukan selisih gol, melainkan hasil head-to-head atau pertemuan langsung antar kedua tim.
Dalam dua pertemuan musim ini, Persib lebih unggul. Di kandang Persib, Maung Bandung menang telak 3-1. Sementara di kandang Borneo FC, laga berakhir imbang 1-1. Dari dua pertemuan tersebut, Persib mengumpulkan 4 poin sementara Borneo FC hanya meraih 1 poin. Selisih itulah yang akhirnya menentukan siapa yang berhak mengangkat trofi juara.
Borneo FC juga tercatat sebagai tim dengan jumlah gol terbanyak di Liga 1 musim 2025/2026, dengan rata-rata lebih dari dua gol per pertandingan. Selain kuat menyerang, mereka juga cukup solid dalam bertahan dengan rata-rata hanya kebobolan 0,9 gol per laga.
Statistik tersebut menunjukkan bahwa perjalanan Borneo FC musim ini sebenarnya tidak bisa dianggap biasa.
Mereka memenangkan sebagian besar pertandingan, tampil dominan terutama di kandang, dan mampu menjaga konsistensi hingga pekan terakhir kompetisi. Publik mulai melihat mereka sebagai representasi kekuatan baru sepak bola Indonesia di luar dominasi klub-klub besar.
Namun ketika musim berakhir tanpa gelar juara, narasi perlahan berubah. Tim yang sepanjang musim mendapat banyak pujian mulai dianggap belum berhasil.
Tidak sedikit komentar di media sosial yang mempertanyakan mentalitas tim, kemampuan menjaga konsistensi, hingga menganggap performa mereka tidak akan terlalu diingat karena gagal mengangkat trofi.
Dari sini saya mulai merasa bahwa sepak bola Indonesia tidak hanya soal olahraga, tetapi juga tentang bagaimana masyarakat memaknai keberhasilan.
Publik terlihat lebih menghargai hasil akhir dibanding proses panjang selama satu musim. Menjadi juara dianggap sebagai satu-satunya bentuk keberhasilan yang sah, sementara posisi lain perlahan kehilangan ruang apresiasi.
Fenomena ini sangat dekat dengan kehidupan sosial masyarakat secara umum. Kita hidup di tengah budaya yang sering kali hanya melihat hasil akhir.
Dalam pendidikan, pekerjaan, bahkan kehidupan sehari-hari, proses panjang sering kalah nilainya dibanding pencapaian yang terlihat secara langsung.
Media sosial memperkuat kondisi tersebut. Opini publik bergerak sangat cepat mengikuti momentum.
Ketika sebuah tim menang, mereka bisa menjadi pusat pujian dalam hitungan jam. Namun ketika gagal di momen penting, narasi juga berubah dengan sangat cepat. Pada titik tertentu, performa sepanjang musim menjadi kurang penting dibanding bagaimana sebuah musim ditutup.
Hal menarik lainnya adalah bagaimana sepak bola Indonesia masih sangat dipengaruhi oleh kekuatan narasi dan sejarah.
Klub-klub dengan basis suporter besar sering kali memiliki legitimasi sosial yang lebih kuat di mata publik. Sementara klub seperti Borneo FC, meskipun tampil luar biasa, tetap harus bekerja lebih keras untuk mendapatkan pengakuan yang sama.
Meski demikian, perjalanan Borneo FC musim ini tetap layak diapresiasi. Tidak mudah menjaga performa selama satu musim penuh di tengah tekanan kompetisi yang ketat, ekspektasi suporter, jadwal yang padat, dan sorotan publik yang terus berubah.
Musim ini menunjukkan bahwa sepak bola Indonesia semakin kompetitif dan kualitas persaingan antarklub semakin berkembang.
Di sisi lain, keberhasilan Persib Bandung meraih gelar juara tentu layak mendapat apresiasi setinggi-tingginya.
Gelar tersebut menjadi bukti bahwa mereka mampu menjaga kualitas permainan, konsistensi, dan mentalitas hingga akhir kompetisi. Dan dalam dua pertemuan yang paling menentukan musim ini, Persib tampil lebih baik saat dibutuhkan.
Pada akhirnya, musim Liga 1 tahun ini memberikan banyak pelajaran menarik, bukan hanya tentang sepak bola tetapi juga tentang masyarakat itu sendiri.
Namun saya berharap ke depan, publik sepak bola Indonesia bisa mulai memberi ruang apresiasi yang lebih besar terhadap proses dan perjalanan panjang sebuah klub, bukan hanya hasil akhir semata.
Semoga Liga 1 Indonesia terus berkembang menjadi kompetisi yang semakin profesional, sehat, dan kompetitif. Ketika liga berkembang, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh klub, tetapi juga oleh perkembangan sepak bola Indonesia secara keseluruhan.
Dan tentu saja, harapan terbesar ada pada tim nasional. Dengan kompetisi yang semakin baik, pembinaan pemain yang semakin serius, dan dukungan masyarakat yang semakin besar, semoga sepak bola Indonesia mampu berkembang lebih jauh dan menunjukkan kualitasnya di level internasional.