Pendidikan Sebagai Pahlawan: Menyongsong Masa Depan Kukar Mutu dan Kesetaraan Pendidikan

Penulis : Riyawan SHut, Pengamat Sosial

Hari Pahlawan tahun ini, kita mengingat kembali bahwa perjuangan bangsa yang sesungguhnya dilandasi pendidikan, setiap anak yang mau belajar adalah kemenangan bagi masa depan Negara dan Bangsa. Namun data menunjukkan masih ada pekerjaan rumah besar, menurut Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) tahun 2024 menyatakan bahwa data anak tidak sekolah (ATS) di Indonesia ditemukan sebanyak 3.094.063 anak.

Perincian ATS pada tiap jenjang, meliputi tingkat SD sebanyak 161.441 anak, SMP sebanyak 688.311 anak, dan SMA sebanyak 2.244.311 anak. Angka tersebut terbilang tinggi. Sedangkan Indonesia memiliki target jangka panjang yaitu Indonesia Emas di tahun 2045.

Penulis berkeyakinan, pendidikan merupakan fondasi utama kemajuan bangsa. Sebab, para pelaku utama di tahun 2045 adalah generasi-generasi muda yang sejak dini harus mendapatkan perhatian serius terhadap pendidikannya.

Tanpa pendidikan yang merata dan bermutu, cita-cita besar Indonesia Emas akan sulit terwujud, dan semangat kepahlawanan akan kehilangan maknanya di tengah ketimpangan kesempatan belajar.

Kondisi Pendidikan di Kaltim dan kukar

Di Provinsi Kaltim juga menghadapi persoalan serupa. Berdasarkan data Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kaltim (2024), sekitar 16.000 anak tidak melanjutkan pendidikan hingga jenjang menengah. Sebagian besar berasal dari daerah pedalaman dan pesisir, di mana jarak sekolah jauh dan infrastruktur transportasi terbatas, menunjukkan bahwa akses pendidikan di Kaltim belum sepenuhnya merata.

Menurut laporan BPS Kukar(2024), mayoritas penduduk menyelesaikan pendidikan hingga SMA sederajat 32,73 persen, diikuti lulusan SD 25,59 persen dan

SMP 23,48 persen. Sedangkan yang berhasil menyelesaikan pendidikan tinggi mencapai 9,52 persen. Di samping itu, masih terdapat sekitar 8,68 persen penduduk yang tidak memiliki ijazah SD, dapat disimpulkan masyarakat belum sepenuhnya terjangkau pendidikan dasar.

Dari data tersebut menggambarkan bahwa perjuangan dalam dunia pendidikan masih membutuhkan komitmen yang kuat dari berbagai pihak. Akses pendidikan yang belum merata memperlihatkan bahwa masih ada anak-anak di pelosok Kaltim seperti di Kukar masih belum memiliki kesempatan setara untuk belajar dan berkembang.

Di sisi lain, mutu pendidikan juga harus menjadi perhatian agar para peserta didik tidak hanya sekadar bersekolah, tetapi benar-benar memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan zaman.

Kesetaraan Pendidikan juga menjadi kunci agar setiap anak, tanpa memandang asal daerah atau latar belakang ekonomi, memiliki peluang yang sama untuk meraih masa depan yang lebih baik.

Akses, Mutu, dan Kesetaraan Pendidikan

Akses pendidikan berarti kemampuan setiap anak untuk masuk dan bertahan dalam sistem pendidikan. Hal ini mencakup ketersediaan sekolah yang dekat, biaya pendidikan yang terjangkau, dan sistem yang inklusif bagi anak berkebutuhan khusus.

Rendahnya akses menyebabkan anak dari keluarga miskin atau daerah terpencil lebih rentan tidak bersekolah. Untuk mengatasinya, pemerintah harus memperkuat infrastruktur, memperluas sekolah satap, dan mempermudah bantuan pendidikan bagi keluarga kurang mampu.

Mutu pendidikan tidak hanya diukur dari ketersediaan sekolah atau guru, tetapi juga kualitas proses belajar. Ini mencakup kurikulum yang relevan dengan kebutuhan lokal, kemampuan guru mengajar, serta hasil belajar yang mencerminkan keterampilan abad ke-21.

Di Kukar, peningkatan mutu bisa dilakukan melalui pelatihan guru berkelanjutan, digitalisasi pembelajaran di daerah terpencil, dan penguatan literasi dasar di tingkat SD.

Pemerintah daerah perlu menerapkan kebijakan afirmatif, seperti subsidi transportasi bagi siswa di wilayah terpencil dan penyediaan sekolah non formal bagi anak pekerja atau disabilitas. Di Kukar, prinsip kesetaraan ini penting untuk memastikan tidak ada anak yang tertinggal dari kemajuan daerah.

Beasiswa sebagai Harapan

Untuk menekan angka ATS, berbagai program beasiswa kini hadir dari tingkat pusat hingga kabupaten. Pemerintah pusat melalui Program Indonesia Pintar (PIP). adalah program bantuan dana tunai dari pemerintah untuk siswa dari keluarga miskin atau rentan miskin agar tetap bersekolah, mencakup jenjang SD hingga SMA/SMK dan juga pendidikan nonformal (Paket A hingga C).

Bantuan ini bertujuan mencegah ATS karena kendala ekonomi dan dapat digunakan untuk biaya pendidikan, seperti seragam, buku, dan transportasi. Di tingkat provinsi, Gubernur kaltim meluncurkan program “Gratispoolll” (Gerakan Akses Pendidikan Gratis Total) yang menanggung biaya pendidikan hingga kuliah bagi siswa ber-KTP Kaltim, termasuk biaya seragam, buku, dan SPP. Sementara itu, Pemkab kukar memperkuat program Beasiswa Kukar Idaman, yang memprioritaskan siswa miskin dan berprestasi di daerah pedalaman.

Kolaborasi tiga level pemerintahan ini menjadi bukti bahwa pendidikan memang harus diperjuangkan bersama sebagai tanggung jawab moral bangsa.

Pendidikan sebagai Bentuk Pengabdian

Mengatasi ATS tidak sekejab mata, melainkan agenda pembangunan jangka panjang yang harus diperlakukan seperti misi pahlawan yang secara kolektif, berkelanjutan, dan berani berinovasi. Sebab, di era saat ini, semangat kepahlawanan salah satunya diukur dari kesungguhan kita membangun generasi yang cerdas dan berdaya saing.

Sinergi lintas tingkatan pemerintahan tersebut penting agar tidak ada anak yang tertinggal dari akses pendidikan, terutama di daerah-daerah terpencil yang menghadapi keterbatasan sarana dan prasarana.

Bagi kukar solusi perlu dirancang berdasarkan data dan kebutuhan wilayah (data driven) agar kebijakan yang diterapkan benar-benar tepat sasaran, berpihak pada keluarga miskin, serta menutup kesenjangan antar wilayah. Pendekatan ini juga menuntut keberanian untuk melakukan inovasi, baik dalam hal pendanaan pendidikan, pemanfaatan teknologi pembelajaran, maupun penguatan kapasitas guru di daerah terpencil.

Penutup

Pendidikan bukan sekadar urusan administratif, tetapi bentuk pengabdian nyata untuk masyarakat. Jika kita gagal menyelamatkan generasi ini, kita kehilangan pahlawan-pahlawan masa depan. Mari jadikan 10 November sebagai momentum untuk mempercepat langkah, memperkuat kolaborasi, dan menegaskan kembali bahwa perjuangan mencerdaskan kehidupan bangsa adalah wujud tertinggi dari kepahlawanan di masa kini.