SANGATTA, IMENEWS.ID – Warga Desa Swargabara kini menghadapi tantangan baru dalam bertani setelah bergesernya fokus komoditas utama dari jagung manis ke jagung pakan.
Pergeseran ini bukan sekadar perubahan jenis tanaman, tetapi juga berdampak pada perputaran modal dan strategi ekonomi para petani yang selama ini mengandalkan panen cepat untuk menjaga arus kas.
Kepala Desa Swargabara, Wahyuddin Usman, menjelaskan, sebelumnya petani menanam jagung manis karena proses panennya relatif cepat, hanya sekitar tiga bulan.
Jagung manis bisa langsung dijual segar ke pasar lokal, pasar tumpah, bahkan pasar induk, sehingga modal mereka berputar lebih cepat. “Kenapa ke jagung manis? Karena proses pendistribusian lebih cepat,” jelas Wahyu. Jumat (28/11/2025).
Kini, fokus pada jagung pipil atau jagung pakan mengubah pola tersebut. Jagung pakan membutuhkan pengeringan lebih lama sebelum siap didistribusikan, sehingga petani harus menunggu lebih lama sebelum mendapatkan hasil penjualan.
Proses ini memperlambat perputaran modal, tetapi mendukung program ketahanan pangan dan penyediaan pasokan pakan ternak.
“Kalau saat ini konsentrasinya di jagung pipil, sedangkan dulu kita di jagung manis semua,” tambah Wahyu. Meski membutuhkan kesabaran dan perencanaan lebih matang, langkah ini dinilai strategis untuk keberlanjutan ekonomi pertanian desa.
Perubahan ini menunjukkan kemampuan Desa Swargabara beradaptasi dengan program pemerintah sekaligus menjaga stabilitas ekonomi petani. Desa multikultural ini menjadi contoh nyata bagaimana petani lokal menyeimbangkan kebutuhan ekonomi dan tujuan strategis ketahanan pangan di Kutai Timur. (Adv99).