Kukar, IMENews.ID- Program Studi PAUD Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan(FKIP) Unikarta memfasilitasi seminar dan sosialisasi kesulitan belajar spesifik, melalui ajang Selebrating Dyslexia Awareness Month, Sabtu 11 Oktober 2025.
Pematerinya Guru SDN 027 Tenggarong Seberang, Sriyanah. Serta M Syarifah Rizka asal Jember.Sedangkan yang menjadi peserta seminar adalah guru PAUD dan SD. Di ruang Mutiara Unikarta.
”Harus kita yakini, setiap anak adalah anugerah terindah dari yang maha Kuasa. Jenjang anak yang mengikuti program PAUD, adalah usia emas perjalanan kehidupan, sebagai solusi keterpurukan bangsa Indonesia di masa yang akan datang,”jelas Dekan FKIP, Suid Saidi.
Dekan Suid menambahkan, PAUD adalah konsep pendidikan yang baik, mengajarkan pengalaman nyata dari gurunya. Memberikan pendidikan yang optimal kepada anak usia PAUD.
”Usia PAUD juga mendidik peka anak, terhadap rangsangan anak sesuai laju perkembangan otaknya, dengan simulasi pembentukan sikap dan karakter sejak usia dini, mampu beradaptasi pada lingkungan,” jelasnya.
Ia berpesan kepada peserta, membangun fundamental anak sejak PAUD sangat penting, untuk ke jenjang yang lebih tinggi dari PAUD. Apalagi melihat bakat anak juga bisa melalui tulisan, belajar matematika dasar sangat penting seperti menghitung batu atau daun.
”Mari mengajar PAUD dengan iklas, jadikan mengajar sebagai bentuk ibadah dan pengabdian kepada masyarakat,” pesan Dr. Suid.
Sriyanah yang menjadi bagian, Indonesia Dyslexia Spesialis Teacher ini menyebut, anak yang alami Disleksia bukan tidak cerdas dan pintar, asal dia bisa mengatur dirinya sendiri, walau kesulitan alami membaca dan menulis.
Ia mencontohkan, banyak anak dialeksia yang sukses, seperti Deddy Corbuzier dan anaknya, aktor Tom Cruise dan banyak lagi buktinya.
”Anak murid saya di Tenggarong Seberang alami disleksia, tapi pintar menggambar dan melukis. Sekarang nilai jasa lukisan sudah Rp 250 Ribu per meternya, itu saja banyak yang pakai jasanya,” jelasnya.
Tanda-tanda anak disleksia, seperti mudah lupa, keterlambatan mengenal bahasa, membaca menulis terbolak balik, sulit membedakan suara benda, lambat mengerjakan tugas, sulit berkoordinasi dari keterampilan motorik.
”Selain itu, tandanya juga, anak tidak suka sekolah, lebih banyak bolos karena tidak bisa baca. Sulit mengeja kata, gangguan memori sering lupa. Yakinlah setiap anak punya kelebihan masing-masing, akan menjadi generasi emas,” pungkasnya.(Red01)