Jalan Terendam, Warga Terpaksa Pakai Ketinting, Hambat Aktivitas Ekonomi

MUARA ANCALONG, IMENEWS.ID – Kondisi jalan yang terendam banjir di Desa Kelinjau Ulu, Kecamatan Muara Ancalong, Kabupaten Kutai Timur memaksa warga menggunakan ketinting atau perahu kecil untuk beraktivitas. Kondisi ini sangat menghambat aktivitas ekonomi masyarakat dari tujuh desa yang bergantung pada akses jalan tersebut.

Camat Muara Ancalong, Harun Al Rasyid mengatakan, saat musim hujan atau air sungai meluap, ruas jalan dari kilometer 1 hingga kilometer 4 di Desa Kelinjau Ulu benar-benar tertutup air dan tidak bisa dilalui kendaraan bermotor.

“Jalan kami ini khususnya dari kilo 1 sampai kilo 4 Desa Kelinjau Ulu itu kalau misalnya air naik, banjir, jalannya tertutup. Kalau terjadi banjir masyarakat biasanya itu lewat pakai ketinting, pakai perahu kecil,” ujar Harun. Selasa (25/11/2025).

Ketinting atau perahu kecil bermotor menjadi satu-satunya alternatif transportasi saat jalan terendam. Namun, penggunaan ketinting sangat terbatas karena hanya bisa mengangkut sedikit penumpang dan barang, serta biaya operasionalnya lebih mahal dibanding kendaraan darat.

“Masyarakat terpaksa pakai ketinting karena tidak ada pilihan lain. Padahal kalau pakai ketinting itu ribet, tidak bisa bawa barang banyak, biayanya juga lebih mahal,” jelas Harun.

Kondisi ini sangat menyulitkan, terutama bagi petani yang harus mengangkut hasil panen, pedagang yang mendistribusikan barang dagangan, atau warga yang harus membawa barang bawaan dalam jumlah banyak.

Dampak paling dirasakan masyarakat adalah melonjaknya harga sembilan bahan pokok (sembako) saat jalan terendam banjir. Distribusi barang dari kota ke desa-desa terganggu, menyebabkan kelangkaan dan kenaikan harga yang signifikan.

“Kalau jalan banjir, harga barang kebutuhan pokok langsung naik. Biaya angkut pakai ketinting mahal, otomatis pedagang naikin harga jual. Yang rugi ya masyarakat,” ungkap Harun.

Harga beras, gula, minyak goreng, dan kebutuhan pokok lainnya bisa naik hingga 30-50 persen dari harga normal saat jalan bisa dilalui kendaraan. Kondisi ini sangat memberatkan masyarakat yang mayoritas berpenghasilan menengah ke bawah.

Para petani juga mengalami kerugian ekonomi yang tidak sedikit. Mereka kesulitan membawa hasil panen seperti padi, sayuran, atau buah-buahan ke pasar karena keterbatasan kapasitas angkut ketinting.

“Petani kami banyak yang mengeluh. Hasil panen bagus tapi susah dibawa ke pasar. Kalau pakai ketinting tidak bisa banyak, kalau terlambat hasil panen bisa busuk. Akhirnya mereka jual murah ke tengkulak,” papar Harun.

Sistem tengkulak yang memanfaatkan situasi sulit ini membuat petani harus menjual hasil panen dengan harga jauh di bawah pasaran. Ketika dijual kembali di kota, harga melonjak tinggi, namun petani tidak mendapat keuntungan dari selisih harga tersebut.

Tidak hanya petani, nelayan di kawasan Mesangat Sui juga menghadapi masalah serupa. Hasil tangkapan ikan yang melimpah tidak bisa segera dibawa ke pasar karena kendala transportasi.

“Nelayan kami juga sama. Tangkapan ikan banyak tapi susah dijual karena akses susah. Ikan cepat busuk kalau tidak segera dijual, akhirnya harga turun drastis,” jelasnya.

Ikan segar yang seharusnya bisa dijual dengan harga bagus terpaksa dijual murah atau bahkan dibuang karena sudah tidak layak konsumsi. Kondisi ini sangat merugikan nelayan yang menggantungkan hidup dari hasil tangkapan.

Dampak jalan terendam tidak hanya pada sektor ekonomi, tetapi juga pendidikan. Anak-anak sekolah dari tujuh desa kesulitan pergi ke sekolah saat banjir. Banyak yang terlambat atau bahkan tidak masuk sama sekali.

“Anak-anak sekolah kasihan. Kalau banjir mereka susah ke sekolah. Ada yang harus pakai ketinting, ada yang tidak berangkat sama sekali karena orangtua tidak punya biaya untuk sewa ketinting,” ungkap Harun prihatin.

Gangguan proses pendidikan ini berpotensi menurunkan kualitas pendidikan anak-anak di wilayah tersebut. Tertinggalnya materi pelajaran bisa berdampak pada prestasi akademik mereka.

Sektor kesehatan juga terdampak serius. Warga yang sakit tidak bisa segera mendapat pertolongan medis karena akses ke Puskesmas terhambat. Kondisi darurat kesehatan menjadi sangat berbahaya.

“Yang paling bahaya itu kalau ada yang sakit mendadak. Tidak bisa langsung ke Puskesmas, harus pakai ketinting dulu. Bisa terlambat penanganannya,” kata Harun.

Beberapa kasus penyakit yang sebenarnya bisa diselamatkan jika ditangani cepat, terpaksa berakhir dengan kondisi yang memburuk karena terlambat mendapat pertolongan medis. Ibu hamil yang akan melahirkan juga sangat terancam jika terjadi komplikasi saat jalan terendam.

Secara keseluruhan, kondisi jalan yang terendam menyebabkan biaya hidup masyarakat meningkat drastis. Bukan hanya harga barang yang naik, tetapi juga biaya transportasi untuk berbagai keperluan.

“Biaya hidup jadi mahal. Mau ke mana-mana harus sewa ketinting, harga barang naik, penghasilan malah turun karena susah jual hasil panen atau tangkapan. Masyarakat kami sangat terbebani,” ungkap Harun.

Kondisi ini berulang setiap tahun dan menjadi lingkaran setan kemiskinan yang sulit diputus. Masyarakat yang seharusnya bisa meningkatkan kesejahteraan malah terpuruk karena faktor infrastruktur yang tidak memadai.

Harun menekankan, jalan yang terendam ini merupakan satu-satunya akses bagi tujuh desa di Muara Ancalong, yakni Desa Kelinjau Ulu, Kelinjau Ilir, Senyur, Longna, Longpok, Teluk Baru, Gemar, dan Longtesak.

“Di antar desa dari desa-desa Kelinjau ke desa-desa di Hulu maupun Desa Senyur. Ada enam desa kami di Hulu sana. Sama Senyur beda arah itu, berarti tujuh desa yang sangat tergantung pada jalan ini,” jelasnya.

Dengan populasi ribuan jiwa, ketujuh desa tersebut sangat membutuhkan jalan yang layak agar aktivitas ekonomi dan sosial bisa berjalan normal sepanjang tahun, tidak hanya saat musim kemarau.

Untuk mengatasi masalah ini, pemerintah kecamatan telah melakukan penimbunan jalan sepanjang 2,5 kilometer dengan dukungan delapan perusahaan. Namun masih tersisa 1,5 kilometer yang belum tertangani karena terkendala cuaca.

“Jadi kita harapkan kalau setelah ditimbun ini masyarakat walaupun airnya naik itu tidak banjir sehingga tidak mengganggu aktivitas mereka. Ini kita masih ada kurang 1,5 kilo lagi yang belum kita timbun,” ungkap Harun.

Penimbunan ini diharapkan bisa mengurangi dampak banjir sehingga masyarakat tidak perlu lagi menggunakan ketinting untuk beraktivitas. Namun, solusi permanen tetap diperlukan melalui program Multi Years dari pemerintah pusat.

Harun berharap program Multi Years dapat segera masuk untuk memberikan solusi permanen terhadap masalah infrastruktur jalan di wilayahnya. Dengan jalan yang baik dan sistem drainase memadai, aktivitas ekonomi masyarakat bisa berjalan lancar sepanjang tahun.

“Harapan kami mudah-mudahan di tahun depan kelanjutan dari program Multi Years bisa segera masuk sehingga tidak mengganggu akses, tidak mengganggu aktivitas ekonomi masyarakat,” harapnya.

Program Multi Years tidak hanya akan menimbun jalan lebih tinggi, tetapi juga membangun struktur jalan yang permanen lengkap dengan sistem drainase yang baik sehingga air tidak menggenang di badan jalan.

Jika kondisi jalan tidak segera diperbaiki secara permanen, dampak jangka panjangnya sangat mengkhawatirkan. Kemiskinan akan terus menggerogoti masyarakat, kualitas pendidikan menurun, dan kesehatan masyarakat terancam.

“Ini bukan hanya soal jalan, tapi soal masa depan masyarakat kami. Kalau jalan tidak bagus, ekonomi tidak berkembang, pendidikan terganggu, kesehatan terancam. Kami sangat mengharapkan perhatian serius dari pemerintah,” pungkas Harun.

Ketergantungan pada ketinting sebagai satu-satunya alternatif transportasi saat banjir jelas bukan solusi yang ideal. Masyarakat berhak mendapat akses infrastruktur yang layak untuk menunjang kehidupan dan aktivitas ekonomi mereka sepanjang tahun. (Adv37)