SANGATTA, IMENEWS.ID – Antusiasme petani Desa Swargabara, Kecamatan Sangatta Utara, terhadap budidaya jagung tetap tinggi, bahkan jauh sebelum pemerintah meluncurkan program ketahanan pangan. Setiap panen, jagung hasil desa ini selalu laris di pasar lokal, khususnya di Simpang Kampung Tator.
Kepala Desa Swargabara, Wahyuddin Usman, menegaskan bahwa pola tanam jagung yang telah mengakar sejak lama tidak akan diganti, meski ada program-program pertanian baru yang digagas pemerintah.
Menurut Wahyu, budidaya jagung telah menjadi bagian dari tradisi desa yang konsisten, jauh sebelum munculnya program ketahanan pangan atau kebijakan ‘Asta Cita’ Presiden terpilih, Prabowo Subianto.
“Budidaya jagung ini sudah dilakukan sejak lama, bukan karena ada program ketahanan pangan. Bahkan, program-program baru itu datang belakangan,” ujar Wahyu. Jumat (28/11/2025).
Setiap akhir tahun, wilayah Simpang Kampung Tator ramai dengan pedagang jagung dari Swargabara yang menjajakan hasil panen mereka di pinggir jalan. Fenomena ini menunjukkan antusiasme petani yang tinggi dan keterikatan warga dengan tradisi bertani jagung.
Wahyuddin menambahkan, kekhawatiran bahwa komoditas jagung akan diganti tanaman lain tidak relevan.
Warga desa tetap mempertahankan polikultur jagung karena hasilnya terbukti menguntungkan dan stabil.
“Alhamdulillah, masyarakat khususnya petani jagung sangat antusias. Pindah komoditas? Sepertinya tidak. Kita tetap mempertahankan budidaya jagung ini,” katanya.
Dengan konsistensi seperti ini, Desa Swargabara membuktikan bahwa tradisi lokal tidak hanya menjaga budaya bertani, tapi juga berkontribusi pada ketahanan pangan di tingkat regional. (Adv98).