MUARA ANCALONG, IMENEWS.ID – Puskesmas Muara Ancalong, Kabupaten Kutai Timur masih menghadapi kendala serius dalam memberikan pelayanan kesehatan optimal kepada masyarakat. Kekurangan tenaga dokter dan obat-obatan menjadi persoalan utama yang belum terselesaikan hingga saat ini.
Camat Muara Ancalong, Harun Al Rasyid mengakui bahwa tenaga kesehatan, khususnya dokter di Puskesmas setempat masih sangat minim. Kondisi serupa juga dialami oleh RSUD Muara Bengkal yang notabene merupakan rumah sakit rujukan di wilayah tersebat.
“Yang jelas tenaga kesehatan khususnya dokternya itu masih kurang. Untuk tenaga kesehatannya ya tetap kurang. Dokter-dokternya itu masih kurang,” ungkap Harun.
Selain kekurangan dokter, Harun juga menyoroti keterbatasan ketersediaan obat-obatan di Puskesmas.
Menurutnya, obat yang tersedia umumnya hanya obat-obatan generik biasa, sementara obat-obatan paten atau berkualitas lebih baik masih sangat terbatas.
“Yang kurang lagi itu terkadang obat-obatannya. Obat-obatannya itu biasanya lebih ke obat-obatan yang kurang paten ya, obat-obatan yang biasa-biasa saja itu mungkin ya. Mau enggak mau karena memang keterbatasan obat,” jelasnya.
Keterbatasan ini tentu berdampak pada kualitas pelayanan kesehatan yang dapat diberikan kepada masyarakat. Pasien dengan penyakit tertentu yang memerlukan obat khusus terpaksa harus membeli sendiri atau dirujuk ke rumah sakit di kota. Senin (24/11/2025).
Harun menjelaskan bahwa persoalan kekurangan dokter bukan hanya terjadi di Muara Ancalong, tetapi juga di Muara Bengkal yang memiliki RSUD. Ia menyebutkan, kesulitan merekrut dokter disebabkan oleh faktor geografis dan keterbatasan peluang kerja sampingan.
“Kenapa agak susah untuk penambahan tenaga kesehatan ini khususnya di Muara Ancalong dan Muara Bengkal? Karena biasanya dokter ini inginnya kalau kerja itu enggak di satu tempat. Biasanya dia ngambil job di beberapa titik ya, beberapa tempat,” ungkapnya.
Menurutnya, dokter umumnya membutuhkan kesempatan untuk praktik di beberapa tempat guna menambah penghasilan. Namun di Muara Ancalong dan Muara Bengkal, fasilitas kesehatan sangat terbatas, tidak seperti di Sangatta yang memiliki banyak rumah sakit dan klinik.
“Kalau misalnya mereka itu cuman di satu tempat, dari segi penghasilan tuh kurang. Memang kendalanya di daerah kami ini sangat sedikit tempat-tempat rumah sakit, enggak kayak seperti di Sangatta,” jelasnya.
Harun membandingkan kondisi di wilayahnya dengan Sangatta yang memiliki berbagai fasilitas kesehatan. Di Sangatta, dokter bisa praktik di RS Ude sambil juga melayani di Rumah Sakit Meloy, UPTD, SOAC, atau fasilitas kesehatan lainnya.
“Dokter di RS Ude bisa nyambi di Rumah Sakit Meloy, bisa nyambi di UPTD, atau di SOAC. Nah, itu enggak ada yang di Muara Ancalong nih. Sehingga ketertarikan dari teman-teman dokter mungkin banyak yang kurang, khususnya dokter-dokter spesialis yang dibutuhkan di Muara Ancalong,” paparnya.
Ketiadaan fasilitas kesehatan alternatif membuat peluang dokter untuk menambah penghasilan sangat terbatas. Hal inilah yang menjadi penghambat utama dalam menarik minat dokter untuk bertugas di wilayah terpencil.
Meski mengakui ada upaya dari Dinas Kesehatan untuk menambah tenaga medis, Harun menyatakan implementasinya masih belum optimal. Diperlukan solusi konkret untuk menarik minat dokter bertugas di daerah terpencil.
“Kalau upaya nakes ada. Saya pikir ada solusi dari Dinas Kesehatan cuman hanya saja bagaimana kita ini menarik minat dari dokter-dokter ingin bekerja di daerah kami ini,” ungkapnya.
Harun berharap ada kebijakan khusus dari Dinas Kesehatan Kabupaten Kutai Timur, misalnya dengan memberikan insentif tambahan atau skema penghasilan yang lebih menarik bagi dokter yang bersedia bertugas di wilayah terpencil seperti Muara Ancalong dan Muara Bengkal.
Kekurangan dokter dan obat-obatan ini berdampak langsung pada pelayanan kesehatan masyarakat. Warga yang memerlukan penanganan medis serius terpaksa harus menempuh perjalanan jauh ke Sangatta atau bahkan ke Balikpapan dan Samarinda.
Kondisi geografis yang sulit, ditambah minimnya transportasi publik, membuat biaya pengobatan menjadi sangat mahal. Belum lagi waktu yang tersita dalam perjalanan, terutama bagi pasien dengan kondisi darurat.
Kehadiran program Dokter Share yang baru saja berlangsung di Muara Ancalong dinilai sangat membantu, namun sifatnya hanya temporer. Yang dibutuhkan adalah solusi permanen untuk memastikan masyarakat mendapat akses layanan kesehatan berkualitas sepanjang tahun.
Harun mengharapkan perhatian serius dari Pemerintah Kabupaten Kutai Timur dan Dinas Kesehatan untuk segera mengatasi persoalan ini, baik melalui peningkatan anggaran, perbaikan fasilitas, maupun kebijakan insentif khusus bagi tenaga medis di daerah terpencil. (Adv31)