Seorang Pedagang Pasar Tangga Arung Sukses Membuat Songkok Khas Kutai

TENGGARAONG – Seorang pedagang Pasar Tangga Arung Tenggarong Badaruddin berhasil membuat songkok khas Kutai secara mandiri.

Keterampilan itu dia pelajari secara otodidak dengan membongkar beberapa songkok khas Kutai untuk memperhatikan secara detail cara pembuatannya.

Beberapa kali uji coba yang beurujung kegagalah, hingga akhirnya ia pun berhasil membuat songkok atau kopiah tersebut.

“Jadi dicoba terus akhirnya dapat hak meulah sorang,” ujarnya kepada media ini, Sabtu (20/4/2024).

Ia mengungkapkan, awal mula membuat sendiri songkok khas Kutai ini karena kekecewaannya saat memesan kopiah tersebut dengan seseorang.

Pria yang karib disapa Badar itu menceritakan, pesanan tersebut dalam waktu yang lama belum juga selesai, padahal uang muka sebagai tanda jadi pemesanan telah diberikan.

Belum juga menerima pesanan, ia pun langsung mendatangi seseorang tersebut untuk menanyakan progres pesanan songkok yang dipesan.

“Soalnya kan udah saya kasih DP (uang muka). Terus didatangi itu belum jadi-jadi songkoknya. Terus pas ditanyain uangnya DP sya itu mana, ternyata itu sudah dipakai orang. Nah itu yang membuat saya kecewa,” ungkap dia.

Sekarang ia telah berhasil memproduksi kopiah tersebut dengan jumlah yang banyak.

Hasil olahan tangannya itu pun banyak diminati pedagang-pedagang Pasar Tangga Arung.

Mereka kerap memesan kepadanya untuk dijual kembali.

Ia mengatakan, satu orang pedagang dalam sekali pesan bisa mencapai 20 sampai 30 buah songkok.

“Bahkan ada yang sampai 50 biji yang pesan. Karena mau dijual lagi kan, jadi ngalak banyak sida. Mana temurah jua mun ngalak banyak gaktu,” kata Badar.

Songkok khas Kutai yang dia produksi ini menggunakan 3 jenis bahan kain, yaitu beludru contessa, beludru martin, dan bludru import dari Korea.

Dari 3 jenis kain tersebut memiliki kualitas yang berbeda-beda.

Ia menjelaskan, untuk kualitas standar itu menggunakan bahan bludru contessa. Kualitas menengah memakai bludru martin. Sedangkan kualitas paling bagus itu bludru impor dari Korea.

“Kalau bahan bludru martin sama impor Korea itu belinya di Jawa karena harganya murah kalau beli di sana. Mun bludru contessa itu beli di sini aja permeter,” terang dia.

Untuk melakukan penjualan serta promosi ia menggunakan media sosial Instagram, Whatsapp, Facebook dan Shope.

Dengan bantuan media sosial tersebut, dia kerap mendapatkan pelanggan hingga di luar pulau Kalimantan.

Seperti beberapa daerah di Jawa, Sumatera, sampai ke wilayah Sulawesi.

“Jadi mereka yang beli ke saya songkok Kutai ni bilang bahwa suka dengan modelnya bagus. Terus ada orang Jawa yang beli dibawanya sampai Mekkah, sampai orang Arab sana makai,” ungkap Badar.

Selain itu, dia juga menerima pesanan kostum sesuai keinginan pelanggan.

Misalnya, diberi tambahan motif batik, diberi logo, dan variasi-variasi lainnya.

“Bubuhan kayak Kerajaan itu biasanya mereka request kostum ada talinya, terus ada yang pakai lambang dari kerajaannya gitu. Kadang sida yang pesan ni bawa sorang kainnya untuk variasi-varianya itu dan temurah harganya kalau kain dari sida,” tutup dia. (adv/mt)

Pemilik Naturls tambah Usaha Baru

TENGGARONG – Pemilik Naturls.id Ririn Rahmahdini mengaku telah menambah jenis usaha baru.

Selain menjual masker, dia juga membuat aksesoris wanita.

Bisnis aksesoris wanita ini memiliki nama brand yang berbeda, yakni Prettypastelsz.

Nama tersebut memiliki arti cantik serta memiliki warna yang menarik.

Dikarenakan banyak penjual-penjual aksesoris, perempuan muda yang masih mengenyam pendidikan di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Kutai Kartanegara ini pun memiliki strategi menarik minat pelanggan dengan menghadirkan warna-warna muda atau kalem.

Hal tersebut ia lakukan agar brand Prettypastelsz ini memiliki ciri khas berbeda dari pada yang lain.

“Yang saya ketahui di era sekarang sepertinya remaja lebih suka warna-warna yang tidak mencolok. Jadi dari situ lah ide saya buat memberi nama bisnis ini Prettypastelsz,” serunya.

Ririn mengungkapkan, baru memulai usaha aksesoris ini pada 5  November 2023.

Bisnis barunya ini dijalankan bermula dari suka membeli aksesoris berbahan manik-manik.

Karena mendapatkan banyak referensi pembuatan aksesoris di media sosial Instagram dan Tiktok, dia pun mencoba belajar membuatnya.

Sejak saat itu, ia terus merasa tertantang untuk membuat aksesoris dengan model-model yang lebih baru.

Pada akhirnya, Ririn pun mencoba memberanikan diri untuk menjualnya melalui media sosial, car free day ataupun pasar malam.

“Sekarang lagi ramai pembeli aksesoris ini,” tutur dia.

Ia menjual aksesoris buatannya tersebut mulai dari harga Rp 10 ribu hingga Rp 25 ribu dengan berbagai macam model.

Kata dia, antusias pelanggan sangat luar biasa. “Apalagi kalau setiap pasang stan di pasar malam,” sebut Ririn.

Dia mengatakan, berhasil menjual aksesoris wanita ini dengan modal awal hanya Rp 250 ribu.

“Alhamdulillah permintaan nya kan lumayan itu kak. Jadi keuntungannya bisa di putar lagi buat beli peralatan yang lain,” katanya.

Ririn berharap bisa membangun brand yang lebih kuat serta dapat menciptakan inovasi-inovasi baru secara berkala.

“Serta bisa memperluas jaringan bisnis lebih jauh lagi,” harap dia.

Ia juga berharap kepada pemerintah daerah agar bisa selalu memberi wadah pembinaan serta dukungan dalam berwirausaha.

“Selain dengan usaha pribadi, tetapi juga dengan wadah-wadah perhatian dari Pemkab Kukar,” tutupnya. (adv/mt)

Nanda Tri Rahayu Menjalankan Usaha Cilok sejak 2021

TENGGARONG – Pemilik Cilok Amang Panjaitan Nanda Tri Rahayu telah menjalankan usaha sejak tahun 2021.

Usaha cilok ini adalah warisan milik almarhum ayahnya yang telah ada sejak tahun 2013.

Dikarenakan sayang untuk ditutup serta telah memiliki banyak pelanggan, ia pun melanjutkan dagangan mendiang ayah mereka tersebut.

“Alhamdulillah rezekinya dari sini mempertahankan itu kemarin. Sempat mau berpikir untuk tutup waktu almarhum meninggal. Tetapi, ternyata pelanggan sudah pada nanyain, jadi kita buka kembali,” terangnya pada Sabtu (23/3/2024).

Selama kurun waktu 4 tahun mendagangkan cilok, pasang surut dalam dunia usaha telah dialaminya.

Walaupun demikian, Cilok Amang Panjaitan ini tetap terus dijalankanya.

“Gimanapun kondisinya karena kadang namanya juga kita sudah punya pelanggan ya dari tahun 2013, jadi khawatirnya ketika tutup pelanggan akan hilang,” ujar dia.

Di awal menjalankan usaha, dia sendiri yang berjualan secara langsung.

Namun, dikarenakan telah menikah, ia pun sekarang memperkerjakan 2 orang karyawan untuk menjaga stan Cilok Amang Panjaitan.

“Dulu saya sendiri yang jualan langsung sebelum menikah. Karena sudah menikah jadi harus ada karyawan,” katanya.

Dalam sehari, ia bisa mendapatkan keuntungan mulai dari Rp 500 ribu hingga Rp 600 ribu.

“Tetapi itu juga tidak menentu. Ya namanya juga jualankan kadang berubah-rubah pendapatan,” sebut Nanda.

Dia menerangkan, untuk satu biji cilok dibandrol dengan harga Rp 500.

Akan tetapi, lantaran bahan baku telah mengalami kenaikan, Nanda pun juga harus menyesuaikan harga perbiji cilok.

Sekarang, perbiji dihargai Rp 1000, tetapi dengan ukuran yang lebih besar.

“Alhamdulillah pelanggan juga tidak bermasalah dengan itu,” tutur dia.

Selain berjualan langsung, Nanda juga mendagangkan secara online melalui media sosial Instagram dan via Gofood.

“Itu pesan antar itu setiap hari berjalan selain berdagang di lokasi stan,” ucapnya.

Ia berharap usaha Cilok Amang Panjaitan ini bisa terus berkembang serta bisa merealisasikan keingingan untuk membuka cabang.

“Terus tetap bertahan pelanggannya, kalau bisa makin nambah. Dan insya Allah kami selalu menjaga rasa dari awal sampai sekarang,” tutup Nanda. (adv/mt)

Cilok Ayam Amang Panjaitan, Terenak di Tenggarong

TENGGARONG – Salah satu produk komoditas Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Tenggarong Cilok Ayam Amang Panjaitan merupakan cilok terenak di Tenggarong.

Pemilik Cilok Amang Panjaitan, Nanda Tri Rahayu mengatakan, warga Tenggarong khususnya yang ada di Jalan Panjaitan dan sekitarnya itu sangat mengenal cilok ini.

Pasalnya, Cilok Amang Panjaitan ini telah ada sejak tahun 2013.

Selain itu, rasa ciloknya itu juga yang tidak pernah berubah sejak di awal buka pada tahun tersebut.

“Jadi kami itu sudah punya pelanggan tetap. Ibaratnya mereka kalau mau makan cilok, ya pasti belinya ke kami,” ujar dia, Sabtu (23/3/2024).

Ia mengungkapkan, salah satu alasan pelanggan menyukai Cilok Amang Panjaitai ini karena memiliki rasa yang khas berbeda dari cilok lainnya.

Perbedaan tersebut terletak pada bumbu ayam serta sambal kacangnya yang dibuat dengan rempah-rempah rahasia.

“Nah jadi banyak yang suka cilok kami ini ya rasanya itu. Kalau sudah pernah makan cilok kami pasti tahu lah rasanya seperti apa,” tutur dia.

Nanda menerangkan, untuk bahan dasar membuat cilok itu sama seperti pada umumnya, yakni menggunakan tepung-tepungan dan lain-lain yang bisa didapatkan di pasaran.

Lalu, menggunakan ayam serta rempah-rempah untuk membuat sambal kacang.

Namun, untuk racikan bumbu ayam yang menjadi ciri khas Cilok Amang Pajaitan itu diambil langsung dari kampungnya di Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat.

“Selain bumbu racikan ayam itu diambil di Tenggarong semua. Karena bumbu ayamnya ini ngambil dari kampung saya, jadi kita stok banyak itu 3 bulan sekali baru ambil lagi,” jelasnya.

Untuk informasi, Cilok Amang Panjaitan sekarang pindah ke Jalan Loa Ipuh berdekatan dengan Gedung Velyny Sport Center.

Bagi masyarakat yang ingin membeli Cilok Amang Panjaitan itu bisa langsung datang ke lokasi dari pukul 17.00-22.15 Wita atau bisa order secara online melalui media sosial Instagram @cilokayam_amang dan Whatsapp ke nomor 087761652478. (adv/mt)

Muhammad Junaidi Berencana Kembangkan Bisnis

TENGGARONG – Pemilik Kentucky Ayam Ka Juna Muhammad Junaidi berencana ingin bisa mengembangkan bisnis lebih besar lagi.

Salah satunya, ia ingin bisa membuka franchise.

Dia menyebut, potensi usaha di bidang kuliner ini masih sangat terbuka lebar untuk terus maju.

Pasalnya, bisnis tersebut tidak akan pernah ada habisnya.

“Namanya manusia pasti membutuhkan makan. Terus potensi di tempat kita ini peluangnya besar. Cuma tinggal kreativitas dan inovasinya aja lagi untuk bisa berkembang,” ucapnya, Sabtu (16/3/2024).

Melalui bisnis Kentucky Ayam Ka Juna ini, ia juga ingin bisa menciptakan lapangan pekerjaan.

Di awal-awal membuka usaha, dia pernah memperkerjakan karyawan.

Akan tetapi, dikarenakan pendapatan masih belum stabil, Ajun pun harus mengelola secara mandiri.

“Mau tidak mau hak ibaratnya ndik ada yang dapat dibagi keuntungan sama karyawan. Kan mentok-mentok itu maha jua (penghasilannya),” ungkap dia.

Ia berencana akan melakukan inovasi-inovasi baru dalam mengembangkan usaha Kentucky Ayam Ka Juna.

“Mau tidak mau harus melakukan inovasi baru supaya tidak kalah saing,” beber Ajun.

Dia berharap kepada Pemkab Kukar khususnya instansi terkait yang menangani pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) agar terus memberi perhatian secara menyeluruh.

Salah satunya dalam memfasilitasi pelaku usaha di bidang kuliner untuk mengurus sertifikasi halal, mereka harus gencar melakukan sosialisasi agar semua UMKM tahu akan informasi tersebut.

Selama ini, ia merasa informasi yang kurang tersebut membuat para pelaku UMKM kuliner sulit untuk berkembang.

“Karena kalau dilihat untuk di daerah kita ini untuk pembuatan sertifikasi halalnya itu agak susah. Mungkin kurangnya informasi terkait cara pengurusannya dan lain-lain,” tutup Ajun. (adv/mt)

Pemilik Kentucky Ayam Ka Juna Manfaatkan Sumber Daya yang ada

TENGGARONG – Pemilik Kentucky Ayam Ka Juna Muhammad Junaidi mengaku memanfaatkan sumber daya yang ada dalam mengelola usaha.

Misalnya, mulai dari tugas memasak, melayani pelanggan dan lain-lainnya, dia kerjakan secara mandiri.

Bahkan, sampai pada pemasaran serta promosi melalui media sosial Facebook dan Whatsapp, ia bisa tangani dengan baik.

“Alhamdulillah lancar-lancar aja segalanya,” katanya, Sabu (16/3/2024).

Untuk bahan dasar ayam mentah, pria yang karib disapa Ajun ini mengungkapkan juga memanfaatkan salah satu pedagang di pasar Sebulu.

Pedagang tersebut sudah menjadi langganannya untuk membeli ayam mentah.

“Nah kebetulan langganan itu ibaratnya mau dibayarnya nanti aja kalau sudah laku jualanku. Jadi dia mandik repot dah urusan itu,” sebut dia.

Ia mengatakan, sebagian besar bahan dasar untuk membuat ayam kentucky dibeli di pedagang yang ada di Sebulu.

Namun, untuk bahan tepung ia ambil di daerah Tenggarong. “Karena kalau tepung itu murahnya di Tenggarong,” terang Ajun.

Dia menerangkan bahwa bahan-bahan yang digunakan untuk membuat ayam kentucky itu antara lain ada tepung terigu, bumbu-bumbu rempah pilihan, dan tepung perenyah.

“Nah tepung perenyah ini yang molah ayam kami beda dengan yang lain. Biasanya kalau ayam yang lain ndik pakai perenyah itu dia kerupuknya itu agak keras,” jelasnya.

Ajun mengatakan, di awal membuka ayam kentucky ini dalam sehari bisa menghabiskan 30 kilogram ayam.

Akan tetapi, lambat laun karena banyak pesaing yang menjual dagangan yang sama serta dengan jarak tidak terlalu jauh, ia paling mentok menghabiskan 5 sampai 10 kilogram ayam dalam sehari.

Sebab, masing-masing lidah orang dalam menilai makanan ini berbeda-beda.

“Ya jadi masyarakat bebas mau milih makan di mana. Macam-macam lah penilaian sida. Ada yang suka bumbunya, ada jua yang melihat ukurannya. Kalau kami ya ukurannya standar aja dari harga Rp 6 ribu sampai Rp 15 ribu,” pungkas Ajun. (adv/mt)

Seorang Pemuda Sebulu buka Outlet Ayam Kentucky

TENGGARONG – Seorang pemuda asal Kecamatan Sebulu Muhammad Junaidi membuka usaha outlet ayam kentucky.

Di dalamnya, ia juga menjual ayam geprek serta berbagai macam jenis minuman.

Bisnis tersebut dia beri nama dengan brand Kentucky Ayam Ka Juna.

Pria yang karib disapa Ajun ini memulai usaha ayam pada bulan Mei tahun 2023.

Sebelum menggeluti usaha ini, dia pernah menjalankan beberapa bisnis lain.

Ia pernah membuka konter yang menjual pulsa, kartu perdana, paket kuota, serta aksesoris-aksesoris handphone.

“Dulu kan lagi musim rame-ramenya urang bebeli kartu paket segala macam. Tetapi, lambat laun selama 2 tahun berjalan mulai mengalami kemunduran sejak masuknya wi-fi indihome,” ungkapnya, Sabtu (16/3/2024).

Oleh karenanya, Alumni Fakultas Agama Islam Universitas Kutai Kartanegara ini meninggalkan usaha konter tersebut.

Ajun pun mencoba membuka jasa pencucian motor.

Namun, usahanya itu bertahan hanya sampai 5 bulan.

“Itu pun omzetnya hanya sampai pada mentok itu 5 juta aja,” terang dia.

Dalam kurun waktu hampir satu tahun menjalankan usaha Kentucky Ayam Ka Juna, ia mengungkapkan telah mengumpulkan penghasilan sampai Rp 60 juta.

Awal membuka usaha itu, Ajun mengeluarkan modal awal sebesar Rp 10 juta.

Modal tersebut diambil dari uang pribadi dan juga meminjam kepada orang tuanya.

Uang itu ia gunakan untuk membeli alat masak, bahan baku, spanduk serta perlengkapan lainnya.

Di bulan pertama membuka usaha, dia berhasil balik modal serta mendapatkan keuntungan Rp 5 juta.

“Di bulan pertama sampai bulan ke-4 itu rame pelanggan. Nah, pas masuk bulan ke-5, di situ mulai mengalami penurunan. Sebenarnya kalau kemarin diawal itu kalau sebulan bisa dapat keuntungan itu Rp 5 juta sampai Rp 10 juta,” pungkasnya. (adv/mt)

Camilan Legendaris Tenggarong, Kacang Ijo Fatonah

TENGGARONG – Produk Kacang Ijo Goreng Fatonah adalah salah satu camilan legendaris yang ada di Tenggarong.

Pemilik Kacang Ijo Goreng Fatonah, Miftah mengungkapkan bahwa produk tersebut telah ada sejak tahun 1980.

Kata dia, bisnis tersebut telah turun temurun dari nenek mereka yang dilanjutkan oleh anak cucunya.

“Jadi kami yang cucu-cucunya ini yang melanjutkan pemasarannya terus-menerus sampai sekarang,” ucapnya pada Selasa (19/3/2024).

Ia mengatakan, untuk produksi Kacang Ijo Goreng Fatonah ini mereka lakukan hanya di rumah.

Walaupun hanya skala rumahan, produknya ini kerap dikirim ke luar Kalimantan seperti Semarang hingga Jakarta.

“Jadi kami enggak ada bikin stan di mana-mana. Cuma di rumah aja kami kelola warisan leluhur kami ini,” ujar dia.

Fatmah menerangkan, sekali produksi mereka bisa menghabiskan 10 kilo kacang hijau per dua hari.

“Kalau banyak yang pesan misalnya mau oleh-oleh ke Surabaya, ke Jakarta, itu di banyakin lagi volume penggorengannya,” terangnya.

Dikarenakan merupakan camilan yang telah lama ada, mereka telah memiliki pelanggan yang tetap.

“Alhamdulillah penjualannya ada terus karena kan jarang ada yang kayak gini,” beber dia.

Ia mengungkapkan, mereka selalu menjaga kualitas produk dengan bahan-bahan berkualitas.

Seperti kacang hijau itu harus lah kualitasnya paling bagus yang dicari di pasar.

Bahkan, untuk minyaknya pun harus menggunakan yang berkualitas seperti merk Sunco.

“Kalau enggak (pakai minyak Sunco), enggak bisa mekar kacangnya. Kalau nggak mekar itu kan itu dia banyak minyaknya, ngisap kayak gitu. Ini juga susah gorengnya kan nggak bisa langsung banyak, dia sedikit-sedikit,” tutur Fatmah.

Dia berencana akan memasukan produk Kacang Ijo Goreng Fatonah ini ke pasar swalayan modern seperti Indomaret, Alfamidi, maupun Eramart.

Pasalnya, produknya ini sudah mendapatkan sertifikat halal yang menjadi salah satu syarat utama untuk bisa dimasukan ke pasar swalayan tersebut.

“Baru aja dapat sertifikat halalnya. Insyaallah habis ini kami masukan ke sana (pasar swalayan modern),” pungkasnya. (adv/mt)

Uhuy Keripik Tempe telah ada sejak 2021

TENGGARONG – Pemilik Uhuy Keripik Tempe Iksan Adi Saputro mengaku telah berwirausaha sejak tahun 2021.

Selama dalam waktu 3 tahun ini, usahanya secara perlahan terus mengalami perkembangan.

Sebelum menjual keripik tempe, ia pernah menjalankan usaha pembuatan rak bunga di tahun 2021.

Namun, bisnisnya itu hanya bertahan selama 4 bulan.

Ide usaha itu Iksan dapatkan karena pernah juara 1 pada lomba pembuatan rak bunga saat masih menempuh pendidikan di SMA.

“Iseng-iseng lah saya posting ke sosial media. Dan terus tu ada yang mau minta buatkan rak bunga. Cuma sebentar aja bikin itu, habis itu beralih ke keripik tempe,” terang dia pada Kamis (14/3/2024).

Ia mengungkapkan, menggunakan media sosial Whatsapp dan Instagram untuk memasarkan produk.

Selain itu, Iksan juga menitipkan ke warung-warung di daerah Loa Kulu.

“Keripik tempe saya ini sudah dibeli selain di daerah Loa Kulu, ada juga pelanggan di Tenggarong dan Samarinda,” katanya.

Dalam seminggu, dia bisa memproduksi 3 sampai 7 kilogram keripik tempe.

Akan tetapi, ia juga dalam seminggu pernah tidak melakukan produksi karena sepi pembeli.

Iksan kerap mendapatkan banjir pesanan saat menjelang hari besar agama Islam.

“Biasanya di hari raya pesanan itu 7 kilo sampai 15 kilo. Dan di tahun ini sudah ada orang 1 orang pesan 3 kg. Biasanya orang pesan itu seminggu sebelum hari raya,” tutur dia.

Bagi masyarakat Kukar yang ingin membeli keripik tempe untuk acara-acara ataupun camilan di rumah dengan rasa yang berkualitas asli dari Loa Kulu, bisa langsung menghubungi kontak Iksan Adi Saputro 085248361300. (adv/mt)

Putri Lestari Hasilkan Omset Puluhan Juta Perbulan

TENGGARONG – Pemilik usaha Ptrshop Putri Lestari mengaku bisa menghasilkan omset puluhan juta rupiah perbulan.

Dalam sehari, bisa menghasilkan Rp 500 ribu sampai 1 juta dari hasil penjualan produknya.

“Jadi sebulan bisa Rp 15 juta sampai Rp 30 juta,” ungkap dia pada Selasa (12/3/2024).

Perempuan muda yang masih mengenyam pendidikan tinggi di Fakultas Agama Islam Unikarta ini mengatakan, penghasilan tersebut tidak serta merta didapat dalam waktu singkat.

Di awal menjalankan usaha tahun 2018, dalam sebulan Putri mendapatkan keuntungan kotor itu Rp 500 ribu dari modal Rp 1 juta.

Setelah setahun berjalan, omsetnya mulai naik secara bertahap.

Bahkan, dia pernah mengalami masa terpuruk dalam berjualan yaitu saat pandemi Covid-19.

Kala itu, ia pun pernah harus melakukan penjualan produk dengan harga yang lebih rendah dari biasanya.

“Mau ndik mau harus on sale harga (dijual dengan harga lebih rendah dari biasanya). Omset jua menurun. Karena, pas itu ongkir online shop murah-murah. Jadi orang banyak belanja di Tiktok langsung,” terang Putri.

Dia mengungkapkan, penjualan terbesar selain daerah Sebulu, yaitu Tenggarong Samarinda, dan Kutai Barat (Kubar).

“Di Kubar agak banyak dari Samarinda dengan Tenggarong. Karena saya punya reseller di sana (Kubar),” katanya.

Putri menerangkan, untuk kebutuhan produk didapatkan dari supplier yang ada di luar daerah.

Seperti produk-produk kecantikan, itu ia ambil dari Jakarta, Yogyakarta serta Bandung.

Sedangkan, untuk produk-produk tas, dia dapatkan hanya dari Bandung. “Terus bisa buat brand tas kita sendiri dengan syarat-syarat tertentu,” ujar Putri.

Saat ini, dia sudah memiliki produk tas dengan brand sendiri karena sudah memenuhi syarat. Diantaranya, surat kepemilikan, surat izin usaha serta surat-surat penunjang lainnya dan juga dengan syarat minimal pembelian.

“Cuma untuk dari segi desain sendiri itu belum ada kak. Masih dalam proses produksi, tapi saya akan launching dalam waktu dekat ini” sebutnya.

Ia berharap bisa memotivasi anak-anak muda yang ingin berwirausaha agar tidak ragu.

Walaupun, tidak bisa dipungkirinya bahwa merintis usaha dari awal itu tidaklah mudah. “Tetapi jika ada kemauan pasti ada jalan,” ujar dia.

Putri juga berharap bisa membuka cabang yang tersebar di seluruh Indonesia.

Hal itu menjadi menjadi tantangan tersendiri baginya untuk bisa membesarkan usaha.

“Apakah saya bisa mengembangkan bisnis saya meskipun dengan kesibukan saya yang sangat padat sekarang ini,” serunya.

Ia juga membuka peluang bagi yang ingin menjadi reseller produk Ptrshop hanya dengan memposting produk di sosial media dengan sistem Pre Order.

“Jadi mereka gak perlu modal awal. Ketika ada yang pesan barulah barang diambil ke saya. Dan mereka bisa langsung dapat keuntungan dari penjualannya,” pungkas Putri. (adv/mt)