Muhammad Basyir Bangun Usaha DVG Digital Printing

TENGGARONG – Pelaku usaha asal Kecamatan Muara Jawa Muhammad Basyir membangun usaha DVG Digital Printing sejak masih duduk di bangku kelas 2 SMA.

Kala itu kondisi keuangan keluarganya mengharuskan dia untuk mencari uang sendiri dalam membiayai sekolahnya.

Ia mengatakan, awal membuka usaha hanya bermodalkan flashdisk dan komputer warung internet (warnet) pribadi.

“Ngeditnya di warnet. Terus kita convert kayak gambar gitu baru saya cetak dan besoknya saya mendatangi pelanggan untuk menunjukkan model desainnya,” jelasnya kepada wartawan media Berita Alternatif pada Rabu (28/2/2024).

Untuk memudahkan konsumen dalam memilih desain, dia menyiapkan 2 model yang akan langsung dicetak sesuai pilihan pelanggan.

Basyir akan pergi ke Samarinda dan Balikpapan untuk melakukan pencetakan.

“Cetaknya waktu dulu tu seringnya ke Balikpapan, Samarinda. Kalau di Samarinda biasanya di dekat Lembus itu ada namanya Lineza, di situ saya nyetak. Kalau di Balikpapan itu di dekat Rajawali,” ucap dia.

Ia mengatakan, karena masih sekolah, pelanggan akan mengambil pesanannya jika telah selesai dicetak ke rumahnya.

Akan tetapi, jika tidak banyak kegiatan ataupun tugas dari sekolah maka Basyir sendiri yang mengantar ke rumah pelanggan.

Karena tidak memiliki modal besar, dia harus bisa mengatur usahanya tersebut agar bisa tetap berjalan.

“Ya gimana ya, dulu karena kita tidak memiliki modal yang besar, jadi ya dijalani aja,” tutur Basyir.

Dia mengaku saat ini sangat bersyukur usahanya bisa berkembang dengan memiliki peralatan yang bisa menunjang pekerjaannya seperti mesin cetak dan lain sebagainya.

Basyir berpesan kepada anak muda yang ingin berwirausaha jangan terlalu memikirkan bahwa membangun usaha harus memiliki modal yang besar.

Padahal, mereka bisa memaksimalkan segala potensi yang ada untuk bisa dijadikan sebagai ide bisnis dan menjalaninya secara perlahan.

“Nanti ada yang kurang, kalau ada yang salah perbaikin. Belajar lagi, perbaikin lagi,” pungkasnya. (adv/ha/mt)

Muhammad Haidir Buka Usaha Pangkas Rambut

TENGGARONG – Seorang pelaku usaha asal Kecamatan Muara Kaman Muhammad Haidir membuka bisnis pangkas rambut.

Dia baru memulai usaha tersebut pada 20 Januari 2024 dengan nama Gasik Pay It Forward.

“Baru sekitar 2 bulan, alhamdulillah berjalan lancar,” ucapnya, Selasa (5/3/2024).

Ia mengungkapkan ide bisnis tersebut dari kebiasaan mencukur brewoknya serta ketertarikannya dengan gaya rambut pria.

“Dari situ mulai cari tahu belajar tentang style rambut laki-laki dengan brewok,” ujar dia.

Haidir mengungkapkan, keahlian cukur rambut ini telah dipelajarinya sejak tahun 2019 dengan temannya bernama Viki Makli dan Ahmad Husein.

Kala itu yang menjadi percobaan awalnya untuk mencukur rambut ialah kepada adik kandungnya yang hasilnya cukup bagus.

Setelah percobaan awal itu berhasil, kata dia, ternyata banyak keluarga serta teman-temannya yang tertarik minta dicukurkan rambutnya.

“Saya awalnya ragu, tapi karena mereka memberi kepercayaan, ya sudah saya cukurkan. Alhamdulillah hasilnya memuaskan. Tidak juga bagus, tapi memuaskan,” tutur dia.

Dia membuka harga jasa cukurnya mulai dari Rp 20 ribu untuk dewasa dan Rp 15 ribu untuk anak-anak.

Akan tetapi, ia juga kerap mencukur secara gratis kepada anak-anak yang datang kepadanya.

“Kadang juga kalau keluarga itu kadang mau bayar nggak saya kasih bayar karena keluarga kan. Karena saya buka tempat cukur ini bukan hanya untuk mencari uang atau materi, tapi saya bisa berbagi untuk kepada warga setempat,” sebut Haidir.

Ia menyebut, trend bisnis pangkas rambut ini cukup menjanjikan dari segi nilai ekonomis.

Pasalnya, dari kalangan muda sampai tua tentu membutuhkan tukang cukur untuk memperbaiki penampilan rambutnya.

Oleh karenanya, dia ingin pelanggan bisa merasakan kualitas setelah mecukur rambut di tempatnya.

“Jadi lain cukur rambut biasa maha, tapi bisa memberi kepuasan kepada yang mau cukur gitu,” pungkasnya. (adv/mt)

Rumah Jahit Alda Buat Inovasi Baru

TENGGARONG – Rumah Jahit Alda membuat inovasi baru dari kain perca atau sisa-sisa kain jahitan.

Pemilik Rumah Jahit Alda, Ada Al Ali Murobbaniyah mengaku selalu mendapati banyak sisa-sisa kain setelah menyelesaikan pesanan baju pelanggan.

Dari pada dibuang, kata dia, sisa kain tersebut diolah lagi menjadi barang kecil-kecilan.

Ia pun berhasil mengolah kain perca itu menjadi sebuah dompet minimalis.

Saat ini perempuan yang karib disapa Alda itu sudah memproduksi sekitar seribu dompet.

Ribuan dompet itu diproduksi bersama karyawannya beserta 12 orang siswa SMKN 2 Tenggarong yang magang di tempatnya.

“Itu kami semua buat sama-sama dari kain perca,” terangnya pada Kamis (8/3/2024).

Dompet yang dibuatnya itu bisa digunakan untuk menyimpan barang-barang berukuran kecil. Diantaranya handphone, uang, kunci dan lain-lainnya.

“Karena memang dia dari sisa-sisa kain aja kan enggak banyak, jadinya kami manfaatkan bikin dompet kecil-kecil aja yang untuk bisa naruh kayak HP,” sebut dia.

Ia menyebut walaupun hanya dari sisa kain, dompet yang diproduksinya itu sangat layak untuk dipakai. Pasalnya, dari segi bentuk itu sama seperti dompet pada umumnya.

“Jadi bagus dia kayak yang dijual orang-orang itu. Biarpun kami buat dari sisa-sisa kain maha,” ujar Alda.

Dia mengungkapkan, sudah melakukan pengemasan ribuan dompet tersebut untuk dijual di online shop.

Ia menjual dengan harga yang bervaratif menyesuaikan dengan bahan dompet dan cukup murah.

Untuk dompet dari bahan batik dijual dengan harga Rp 10 ribu, bahan brukat Rp 8 ribu, dan bahan kain polos Rp 5 ribu.

“Ukurannya sama cuman beda motif atau bahannya saja. Bisa jua request bahannya mau di mix (campur),” jelasnya.

Alda berharap dompet yang mereka produksi ini dapat menarik banyak minat dari masyarakat.

Semakin banyak yang melakukan pemesanan, maka ia bisa memberdayakan siswa magang untuk membantu produksi.

“Jadi nanti mereka juga dapat penghasilan dari penjualan dompet. Di sisi lain saya bisa buat lapangan pekerjaan juga,” pungkasnya. (adv/mt)

Koperasi Konsumen Tirta Mahakam Hasilkan Keuntungan Rp 600 Juta pada Tahun 2023

TENGGARONG – Ketua Koperasi Konsumen Tirta Mahakam Roni Gunawan mengungkapkan pihaknya telah menghasilkan keuntungan bersih sebanyak Rp 600 juta rupiah pada tahun 2023.

“Untuk di tahun 2023 sekitar enam ratusan bersihnya,” jelas dia, Rabu (28/2/2024).

Ia menjelaskan koperasi tersebut mendapatkan keuntungan dari usaha minimarket, loket pembayaran air, listrik, serta pembayaran transfer.

Usaha tersebut, sebut Roni, dijalankan menggunakan modal yang berasal dari iuran anggota sebesar Rp 150 ribu. Anggotanya berjumlah 503 orang.

Ditambah dengan sumber pendapatan yang berasal dari simpan pinjam anggota PDAM dan jasa rekanan yang terlibat.

Dalam alokasi dana jasa rekanan, kata dia, itu diinventarisir menjadi kebutuhan bersama, khususnya belanja kantor.

Koperasi yang dipimpinnya menggunakan modal tersebut salah satunya untuk pengadaan sarana dan prasarana sehingga dapat mendongkrak pendapatan koperasi.

Lanjutnya, keuntungan ini akan diperuntukkan kembali kepada Anggota, karena sesuai dengan prinsip koperasi dari anggota untuk anggota.

Koperasi Tirta Mahakam berdiri pada tahun 1993 yang awalnya hanya diperuntukkan untuk Anggota. Namun, seiring berjalannya waktu dan perubahan anggaran menjadi Koperasi Konsumen Tirta Mahakam PDAM dan bergerak di bidang minimarket.

Kata dia diagram perkembangan koperasi selalu mengalami kenaikan dengan kategori stabil.

“Kalau untuk keluar belum ada, tapi ada waseda masyarakat umum boleh transaksi di sana,” ungkapnya.

Ia mengatakan, Koperasi Konsumen Tirta Mahakam juga menyediakan pengadaan roda dua untuk anggotanya.

Pihaknya juga melakukan loka karya untuk pengembangan koperasi khususnya bagi para anggota, tujuan diadakan lokakarya sebagai penguat internal keanggotan koperasi.

Roni berharap koperasi yang dinakhodainya selama lima tahun ini terus berkembang dan mendapatkan keuntungan yang stabil.

“Untuk pengembangan masih seputar pusat, ada tujuan untuk menambah pendapatan mungkin bisa terjun langsung kemasyarakat dalam artian menambah usaha,” tutup Roni. (adv/lt/mt)

Konsisten adalah Kunci dalam Bisnis

TENGGARONG – Pemilik Miyaya Yoga menyebut dalam dunia bisnis konsisten adalah kunci untuk mencapai keberhasilan.

Sebagaimana yang telah ia terapkan pada usahanya bahwa paling tidak dalam satu bulan bisnisnya harus tetap berjalan.

Kata dia, maka dalam waktu tersebut harus bisa menyiapkan permodalan dan persiapan-persiapan tak terduga lainnya agar usaha tersebut bisa konsisten berjalan selama satu bulan.

“Contoh kecilnya gimana supaya Miyaya tetap buka selama satu bulan di awal, supaya bisa jaga konsistensi itu sendiri. Insya Allah bisa menghasilkan sesuatu gitu sampai sekarang,” jelasnya.

Selain itu, sambung dia, salah satu indikator produk yang berhasil adalah dilihat dari pelanggan yang melakukan pemesanan suatu produk secara berulang.

Hal tersebut, lanjutnya, bisa menjadi database pelaku usaha untuk melakukan riset minat dari pelanggan.

Lalu, pelaku usaha bisa melakukan pengembangan strategi pemasaran dengan cara bekerja sama maupun melakukan jemput bola dari program-program pemerintah yang berkaitan dengan UMKM.

“Biar kedepannya lebih matang lagi. Karena kan tantangan hari ini sama besok itu pasti berbeda,” kata Yoga.

Ia menerangkan, saat ini pelaku UMKM butuh bantuan pemerintah untuk pembinaan berbasis digitalisasi.

Menurut dia, hal tersebut dapat membantu UMKM dalam mengembangkan usahanya.

Yoga berpesan kepada masyarakat yang ingin berwirausaha agar percaya diri dengan ide yang ada di kepalanya untuk memulai usaha.

Ia menyebut, asalkan bisa terus berkomitmen dan konsisten dalam mengembangkan produk serta siap menghadapi berbagai tantangan dalam berbisnis.

“Terus belajar jangan berhenti belajar. Kalau ada kegiatan dari Pemkab, apalagi gratis ikutin aja enggak usah gengsi. Kita jadi sama-sama gelas kosong, isi dengan ilmu-ilmu. Buat yang sudah sukses, jangan malu berbagi ilmunya buat yang baru. Jadi, kita harus sinergi ya,” tutup dia. (adv/nf/mt)

Yoga Nilai Pemkab Kukar Serius Membantu UMKM

TENGGARONG – Pemilik Miyaya Yoga menilai bahwa Pemkab Kukar saat ini telah serius membuat program-program yang dapat membantu pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) untuk mengembangkan usahanya.

Dia menyebut, banyak pelaku UMKM saat ini peminatnya lebih banyak dari kalangan anak muda yang memiliki ide dan kreativitas yang memerlukan pembinaan agar usahanya bisa berkembang.

Menurutnya, hal tersebut telah ditunjukkan oleh pemerintah dengan memfasilitasi para pelaku UMKM dalam pelatihan, bantuan, dan pembinaan secara gratis.

“Banyak anak-anak mudanya tuh kreatif-kreatif, tinggal gimana nih mau wujudkan ide segera menjadi sebuah kenyataan,” ucapnya, Jumat (1/3/2024).

Yoga mengungkapkan bahwa Miyaya adalah salah satu UMKM yang telah mendapatkan manfaat dari program pemerintah, salah satunya pengadaan sertifikasi halal.

“Kegiatan dari Dinas Koperasi sih kemarin pernah ikut, tapi diwakilin. Cuma kemarin ada undangan lagi, terakhir ini saya ikut ngadain sertifikasi halal. Itu tinggal keluar sertifikasi halal itu,” ungkap dia.

Selain itu, ia mengaku kerap mendapatkan undangan untuk mengisi stand UMKM yang secara tidak langsung turut membantu memperkenalkan produk UMKM ke masyarakat.

“Karena kalau kita tetap jualan diam gitu agak susah berkembangnya. Terus saya kan ada juga lihat program dari kerjasama Pemkab sama Bankaltimtara itu juga alhamdulillah ya berarti ada niat serius nih membantu UMKM lokal biar lebih terbang tinggi lagi,” tutur Yoga.

Dia menjelaskan, dukungan yang Miyaya dapatkan tentu tidak hanya dari bantuan pemerintah, tetapi juga kerja sama dengan pihak ketiga seperti mendapatkan pemasokan tepung terigu Bogasari PT Indofood Sukses Makmur Tbk, serta membantu dalam hal pemasaran menggunakan media online.

“Harus ada teman-teman yang saling menggandeng gitu. Sama teman-teman media gini buat marketing, memang harus saling bersinergi sih,” pungkasnya. (adv/nf/mt)

Yoga Bangun Usaha Kuliner

TENGGARONG – Seorang pelaku usaha asal Tenggarong Yoga membangun usaha kuliner yang fokus menjual camilan-camilan.

Bisnisnya tersebut ia beri nama Miyaya dengan jargon Makanan Ringan Enak dan Menyenangkan.

Kata dia, nama itu diambilnya dari panggilan akrab sang istri di dalam keluarga.

Menurutnya, nama Miyaya juga terkesan mudah diingat dengan menggunakan logo berwarna putih yang dipadukan dengan warna oren.

Yoga mengungkapkan, ide usaha ini berawal dari hobi istrinya yang gemar memasak serta telah memiliki basic berjualan sejak masih SMA.

Dia mengatakan, mereka mulai serius membangun bisnis tersebut di tahun 2019 melalui media sosial Instagram @Miyaya.tgr dan WhatsApp 085652171311.

“Jadi dari SMA itu sering jualan -jualan gitu. Akhirnya ayo bismillah Mah kita seriusin nih, biar enggak gini -gini aja gitu kan. Jadi kami seriusin lah,” ujarnya kepada media ini, Jumat (1/3/2024).

Ia menerangkan, mereka mulai menyewa tempat untuk dijadikan toko di tahun ke-4 menjalankan bisnis Miyaya.

Kini, toko Miyaya berada di Jalan Kartini dengan memiliki 7 pegawai yang dibagi menjadi tim produksi dan tim penjualan, dengan jam operasional dari pukul 11.00 -21.00 Wita.

Kata Yoga, penghasilan dari penjualan camilan Miyaya mereka putar untuk modal dan investasi peralatan yang diperlukan untuk pengembangan.

Dia mengaku, penghasilan dari Miyaya saat ini sudah bisa menutupi semua keperluan modal produksi, sewa tempat, gaji karyawan serta tabungan masa depan.

“Benar-benar modal awal keluar sudah balik modal. Enggak ada kita suntik modal lagi. Jadi alhamdulillah sebelum bisnis ini berdiri sudah ada kalkulasi perhitungannya,” jelas Yoga.

Dia menerangkan, bahan-bahan dasar yang digunakan untuk camilan Miyaya itu diambilnya dari pemasok lokal di Tenggarong.

Namun, untuk bahan-bahan khusus takoyaki itu mereka dapatkan dari luar Kalimantan.

Ia menyebut, Miyaya dalam sebulan bisa menghabiskan 200 kilogram tepung untuk produksi yang bekerja sama dengan tepung terigu Bogasari PT Indofood Sukses Makmur Tbk.

“Alhamdulillah kami UMKM ya. Makanya UMKM ini kalau berdiri sendiri bisa, tapi berat. Harus ada teman -teman yang saling menggandeng gitu,” pungkas dia. (adv/nf/mt)

Bangun Bisnis Kopi Station Koffie, Rustam Haji Lalui Banyak Perjuangan

TENGGARONG – Seorang pelaku usaha asal Tenggarong Rustam Haji yang membangun bisnis kopi dengan nama Station Koffie itu mengungkapkan perjuangan panjangnya mendirikan bisnis tersebut.

Dia yang juga merupakan musisi dari grup band Thtry Seven itu mengatakan, membangun bisnis kopi tersebut pada saat pandemi Covid-19.

Kala itu, mereka terpaksa harus menutup semua agenda yang akan dilaksanakan oleh bandnya.

Oleh karenanya, ia bersama tim Thtry Seven tersebut harus menganggur selama 2 tahun.

Selama masa menganggur, kata dia, mereka kerap berdiskusi untuk mencari ide kegiatan yang bisa menghasilkan pundi-pundi ekonomi.

Pria yang karib disapa Utam Arivin itu mengaku, ide yang mereka hasilkan yakni bisnis kopi Station Koffie.

Sebelum Station Koffie berdiri, ia melakukan riset terlebih dahulu dengan mendatangkan teman seorang konsultan dari Jakarta selama 2 pekan.

“Gua panggil temen temen gua yang konsultan di Jakarta. Gua bayar dengan profesional datang kesini untuk ngeriset ide gua,” ucap dia pada Senin (27/2/2024).

Utam menerangkan, hasil riset oleh temannya menilai untuk mendirikan Station Koffie di Tenggarong peluangnya hanya 0.01 persen. “Artinya gua tidak direkomendasikan untuk melanjutkan konsep yang ada di kepala gua,” katanya.

Namun, hasil riset oleh temannya tersebut tidak membuatnya mengurungkan niatnya untuk mendirikan Station Koffie.

Pasalnya, konsultan yang didatangkannya dari Jakarta tersebut hanya 2 minggu tinggal di Tenggarong, sedangkan dia telah menetap di Kota Raja selama 8 tahun.

Menurutnya, ada banyak hal tersembunyi yang tidak mereka ketahui di Tenggarong walaupun telah melakukan riset.

“Gak papa, gua tidak menyesal membayar mereka. Itu sebagai cerminan gua gitu. Harus ada yang mengargumentasi gagasan gua sebenernya, tapi keyakinan gua jauh lebih besar dari data riset yang mereka lakukan,” ungkap Utam.

Setelah itu, dia pun melakukan riset berbagai macam racikan kopi bersama temannya seorang barista selama 6 bulan.

“Gua sampai asam lambung lo karena setiap hari gua meminum beberapa gelas kopi untuk mencoba kopi yang lagi kita buat ini supaya layak jual,” ujarnya.

Utam mengungkapkan, tujuanya melakukan riset adalah karena ingin masyarakat yang membeli kopinya dengan harga mulai dari Rp 15 ribu sampai Rp 25 ribu itu bisa merasa puas dan bahagia membeli di Station Koffie.

“Gua mau mereka ngeluarin uang untuk beli kopi habis tu bahagia. Jadi gua enggak mau disumpahin orang ‘kopi apaan ini’ gua enggak mau begitu,” ucap dia.

Selain melakukan riset berbagai racikan kopi, ia juga menganalisa pasar dan menu-menu yang akan disajikannya kepada konsumen.

Setelah 6 bulan melakukan riset, mereka pun melakukan launching Station Koffie pada 9 Januari 2023.

Setahun berjalan, mereka kembali membuka cabang Station Koffie di Jalan Danau Murung, Kelurahan Loa Ipuh, Kecamatan Tenggarong pada 19 Februari 2024.

Kata dia, riset yang dilakukannya selama ini terbukti berhasil serta bisa diterima oleh masyarakat Tenggarong

“Saat ini kami berhasil mengembangkan bisnis kita menjadi 2 cabang. Insya allah nanti ke 3, 4 dan seterusnya,” tutupnya. (adv/ha/mt)

Station Koffie Sajikan berbagai Varian Menu

TENGGARONG –  Chief Executive Officer Station Koffie Utam Arivin mengatakan mereka menyajikan berbagai macam varian kopi yang bisa dinikmati oleh masyarakat.

Dia menjelaskan, berbagai macam varian kopi itu dibuat menggunakan bahan dasar utama biji kopi robusta jenis kopi dampit dari Malang, karena paling cocok untuk meniptakan rasa nikmat yang khas Station Koffie.

“Tapi kalau stoknya lagi kosong, akhirnya kita harus membuka peluang untuk jenis kopi yang lain, tapi kita tetep mencari itu yang paling utama. Karena dari riset kita selamat 6 bulan (biji kopi dampit sangat cocok),” jelasnya pada Senin (26/2/2024).

Ia mengungkapkan selain menu kopi, Station Koffie juga menyediakan pilihan menu lainnya seperti signature, frape, non coffe dan mocktail.

Kata Utam, menu kopi best seller Station Koffie saat ini yaitu kopi susu harat dan kopi susu gula merah. Sedangkan untuk menu non coffe adalah choco crunchy dengan coklat yang khas.

“Karena gua memiliki report (laporan) penjualan yang di mana kopi susu harat dan kopi susu gula merah selalu menduduki peringkat pertama dan untuk menu best seller non coffe ya choco crunchy karena coklat kita berbeda,” ucap dia.

Utam menyebut, letak outlet Station Koffie yang strategis di Jalan Panjaitan yang berseberangan dengan Jalan Kartini membuat usaha kopinya selalu ramai pengunjung.

Ditambah, kedua jalan tersebut kerap dilalui oleh masyarakat seteampat yang ingin menuju ke daerah Timbau.

“Sehingga orang yang di sana mungkin harini dia enggak beli, tapi hari ini dia terpaksa mau enggak mau, suka enggak suka dia melihat outlet gua. Mungkin dalam hatinya ‘besok gua kesana ah’,” pungkas Utam.

Bagi masyarakat Tenggarong yang ingin merasakan nikmatnya kopi dengan rasa yang khas, bisa langsung ke Station Koffie atau bisa kepoin Instagram @stationcoffe.id. (adv/ha/mt)

Kula Kopi Sajikan Ragam Kopi yang Nikmat dan Berkualitas

TENGGARONG – Dalam upaya memberikan pengalaman meminum kopi yang tak terlupakan, Kula Kopi menyajikan berbagai macam varian kopi yang tak hanya nikmat tetapi juga menghadirkan keunikan dalam setiap cangkirnya.

Menyasar pecinta kopi sejati, Kula Kopi menawarkan atmosfer yang nyaman dan kopi berkualitas tinggi.

Pemilik Kula Kopi Salehuddin Muhammad menjelaskan bahwa pihaknya menyajikan beragam menu kopi yang inovatif dan berkualitas tinggi dengan harga yang terjangkau.

Kata dia, Kula Kopi menggunakan dua jenis biji kopi dalam produknya: kopi arabica dan robusta.

“Menu best seller dan diminati konsumen dari Kula Kopi ini ialah kopi kula dan kopi aren,” ungkap pria yang akrab disapa Ale ini pada Senin (26/2/2024).

Selain menyajikan kopi, Kula Kopi juga menawarkan variasi minuman non-kopi yang segar dan menggugah selera. Berbagai pilihan minuman seperti choco classicchoco cheese, dan strawberry milk cheese tersedia di Kula Kopi.

Hal ini memberikan alternatif yang menarik bagi para pelanggannya yang ingin mencoba ragam variasi minuman yang tersedia di kafe tersebut.

“Yang sering diminati konsumen untuk non-kopi yaitu choco cheese dan strawberry milk cheese,” ungkapnya.

Ia mengaku telah membangun kerja sama dengan Grab Food. Langkah ini untuk memperluas jangkauan dan memudahkan akses bagi para konsumen Kula Kopi.

Dia juga memanfaatkan media sosial untuk menunjang strategi pemasaran usahanya.

“Saya biasanya memasarkan produk minuman kami melalui media sosial kayak Instagram dan WhatsApp,” ungkapnya.

Selain itu, Ale memasarkan produknya secara langsung dari mulut ke mulut kepada kenalan dan teman-temannya.

Strategi tersebut berdampak secara langsung kepada para konsumen Kula Kopi.

Dia berharap Kula Kopi dapat berkembang pesat sehingga bisa bersaing dengan kedai kopi lain di Kutai Kartanegara.

“Semoga Kula Kopi dapat berkembang lebih baik lagi,” pungkasnya.

Jika ingin merasakan kenikmatan kopi yang disajikan Kula Kopi dengan berbagai macam menu kopi dan non-kopi, Anda bisa langsung ke tokonya atau cek Instagram @kulakopi.tgr(adv/ha/jt)