Beranda Negara yang Terlupakan: Kisah Enumerator Menembus Hulu Mahakam Demi Mendengar Suara Rakyat

Cerita : Nurul Huda(Enumerator Kaltim)

Banyak orang mengira pekerjaan surveyor atau enumerator itu sederhana. Datang ke lokasi, wawancara beberapa orang, isi kuesioner, lalu pulang membawa data. Kelihatannya rapi, ringan, bahkan kadang dianggap “kerja sambil jalan-jalan”.

Padahal kenyataannya nggak selalu begitu. Ada tempat-tempat di Indonesia yang membuat pekerjaan sebagai pewawancara lapangan berubah menjadi perjalanan fisik sekaligus perjalanan batin.

Tempat yang mengajarkan bahwa angka-angka di laporan sebenarnya lahir dari lumpur, hujan, sungai deras, dan perjuangan manusia yang sering nggak terlihat.

Dan semua itu saya rasakan ketika mendapat tugas survei pilkada di Kabupaten Mahakam Ulu, Kalimantan Timur. Nama Mahakam Ulu mungkin masih asing bagi sebagian orang.

Kabupaten ini adalah daerah otonomi baru yang resmi berdiri tahun 2013 dan baru melaksanakan pilkada langsung pertamanya pada 9 Desember 2015. Saat itu masyarakat memilih Bonifasius Belawan Geh dan Yohanes Juan Jenau sebagai bupati dan wakil bupati pertama pilihan rakyat.

Sebelum itu, daerah ini hanya dipimpin penjabat bupati yang ditunjuk pemerintah. Demokrasinya masih muda. Infrastrukturnya masih terbatas. Dan jaraknya dari hiruk-pikuk kota terasa sangat jauh.

Saya datang sebagai surveyor dari lembaga riset JIP untuk membaca denyut politik masyarakat di sana. Tapi yang saya temukan jauh lebih besar daripada sekadar data eelektoral Perjalanan ini mengubah cara saya memandang Indonesia.

Naik Speedboat dan Menembus Riam: Saat Pekerjaan Enumerator Jadi Ujian Mental

Perjalanan dimulai dari Long Bagun, ibu kota Kabupaten Mahakam Ulu yang sederhana dan tenang. Dari sinilah saya sadar bahwa tugas lapangan di daerah terpencil bukan pekerjaan biasa. Di kota besar, survei mungkin identik dengan, Datang ke aula, membagikan kuesioner, wawancara singkat, pulang naik kendaraan nyaman

Tapi di Mahakam Ulu, survei berarti menyusuri Sungai Mahakam berjam-jam menggunakan speedboat kecil menuju wilayah hulu. Dan itu bukan perjalanan wisata.

Speedboat yang saya tumpangi panjang dan ramping dengan mesin tempel di bagian belakang. Di kanan kiri hanya terlihat hutan Kalimantan yang lebat, seolah menutup dunia luar.

Yang membuat perjalanan ini semakin berkesan adalah penumpang di sebelah saya merupakan prajurit TNI dari Satgas Pamtas.

Mereka duduk tenang dengan seragam loreng, ransel besar, dan senjata yang tersandar di dekat kaki. Mereka sedang menuju pos perbatasan di wilayah pedalaman. Di atas speedboat itu, kami sama-sama menempuh perjalanan berat dengan tujuan berbeda.

Mereka menjaga perbatasan negara, Saya mencari suara rakyat untuk kebutuhan survei demokrasi Salah satu prajurit yang masih muda sempat tersenyum melihat wajah gugup saya.

“Pertama kali ke Long Apari, Pak?” tanyanya ?“Pegangan kuat kalau masuk riam nanti.” ujarnya.

Saya belum benar-benar paham maksudnya waktu itu. Sampai akhirnya speedboat mulai memasuki riam. Suara air berubah. Arus makin liar. Bebatuan besar bermunculan di tengah sungai. Riam Udang dan Riam Panjang bukan Cuma nama geografis. Buat orang yang belum pernah melewatinya, tempat itu terasa seperti ujian keberanian.

Motoris speedboat bergerak cepat dan penuh insting. Kemudi diputar tajam untuk menghindari batu besar yang tersembunyi di balik arus deras. Kadang speedboat menghantam ombak sungai sampai badan terasa terangkat.

Beberapa kali kami bahkan harus turun dari perahu. Penumpang diminta berjalan kaki melewati tepian sungai berbatu sementara speedboat dikemudikan kosong melewati bagian riam yang terlalu dangkal dan berbahaya.

Di situ saya berdiri dengan kaki basah sambil melihat perahu meliuk di antara arus sungai yang ganas. Dan di momen itulah saya sadar. Bagi masyarakat di sini, perjalanan seperti ini bukan petualangan. Ini rutinitas.

Anak sekolah melewati jalur seperti ini. Ibu-ibu membawa sembako lewat sungai ini. Prajurit menjaga perbatasan melalui arus yang sama. Sementara saya?

Baru beberapa jam saja sudah mengeluh dalam hati. Profesi enumerator di tempat seperti ini mengajarkan kerendahan hati dengan cara yang sangat nyata.

Long Apari dan Wajah Indonesia yang Jarang Masuk Berita

Setelah perjalanan panjang, akhirnya saya tiba di Kecamatan Long Apari, wilayah paling hulu di Mahakam Ulu. Kecamatan ini terdiri dari beberapa kampung.

Long Apari, Naha Tivab, Noha Silat, Tiong Bu’u, Naha Buan, Long Kerioq, Tiong Ohang, Long Penaneh I, Long Penaneh II, Long Penaneh III.

Setiap kampung punya cerita sendiri. Setiap rumah menyimpan harapan berbeda. Tapi kesan pertama yang paling terasa justru keheningan. Bukan sunyi karena kosong. Tapi sunyi karena jauh dari dunia yang biasa saya kenal.

Di sini, Sinyal telepon sering hilang. Harga sembako mahal. BBM langka. Pasokan makanan terganggu saat sungai surut. Harga beras bisa dua kali lebih mahal dibanding Samarinda. Namun yang paling mengejutkan saya bukan kesulitan hidup mereka.

Melainkan kenyataan bahwa masyarakat di sini tetap peduli pada demokrasi. Mereka tetap ingin didengar. Tetap ingin memilih pemimpin terbaik. Tetap punya harapan meski hidup jauh dari pusat pembangunan. Saya datang membawa daftar pertanyaan survei pilkada:

Siapa calon yang dipilih, Apa harapan terhadap pemerintah, seberapa puas masyarakat terhadap pembangunan. Tapi jawaban yang saya terima sering terasa jauh lebih dalam daripada sekadar data statistik. Seorang bapak tua di Tiong Ohang berkata pelan.

“Kami pilih orang yang mau naik perahu ke sini. Yang mau basah kakinya di riam. Bukan yang Cuma pasang baliho.”

Kalimat itu sederhana. Tapi menampar keras. Di kota, politik sering dipenuhi pencitraan. Di sini, masyarakat hanya ingin satu hal,

Di kampung lain, saya bertemu seorang ibu muda yang sedang menggendong anaknya sambil menjawab pertanyaan survei. Dia bicara tentang, Jalan rusak, sekolah terbatas, sampai dokter yang jarang datang.

Nada suaranya tidak marah. Hanya lelah. Tapi di balik kelelahan itu masih ada harapan yang bertahan diam-diam. Dan sebagai enumerator, saya belajar bahwa tugas kami bukan Cuma mencatat jawaban. Kadang kami juga menjadi pendengar bagi suara-suara kecil yang jarang punya panggung.

Enumerator Bukan Sekadar Pencatat Data, Tapi Saksi Kehidupan

Malam terakhir di Long Apari jadi salah satu malam paling membekas dalam hidup saya. Saya duduk di tepi Sungai Mahakam bersama beberapa prajurit TNI yang besok akan melanjutkan perjalanan ke pos perbatasan yang lebih jauh lagi.

Malam itu sungai terlihat tenang. Sulit dipercaya siang tadi arusnya begitu ganas. Salah satu prajurit bercerita bahwa dia sudah delapan bulan bertugas jauh dari keluarganya di Jawa. Sinyal telepon sulit. Akses terbatas. Kadang berhari-hari tanpa komunikasi. Tapi dia berkata santai, Ini perbatasan, Pak. Kalau bukan kita yang jaga, siapa lagi ?

Saya diam cukup lama setelah mendengar itu. Karena tiba-tiba saya merasa pekerjaan saya sebagai enumerator menjadi sangat kecil dibanding pengorbanan mereka. Namun di saat yang sama, saya juga sadar bahwa pekerjaan lapangan seperti ini tetap penting.

Karena demokrasi yang sehat membutuhkan suara dari semua tempat, termasuk daerah terpencil yang sering dilupakan. Enumerator bukan sekadar pengumpul ddata Kami berjalan dari rumah ke rumah. Mendengar cerita orang.

Melihat langsung ketimpangan. Menyaksikan bagaimana masyarakat bertahan hidup. Kadang kehujanan. Kadang ditolak responden. Kadang kelelahan secara fisik dan mental. Tapi justru di situ letak pelajaran hidupnya.

Profesi ini mengajarkan bahwa Indonesia tidak Cuma terdiri dari gedung tinggi, jalan tol, dan kota besar. Indonesia juga hidup di pos perbatasan terpencil, kampung di hulu sungai, rumah kayu sederhana, serta Dermaga kecil yang sunyi.

Dan orang-orang di sana tetap punya mimpi yang sama, Ingin hidup lebih baik. Saya pulang membawa data survei yang lengkap. Tapi ada hal lain yang ikut saya bawa pulang yakni rasa malu. Malu karena selama ini merasa sudah mengenal negeri sendiri, padahal belum pernah benar-benar melihat perjuangan orang-orang di beranda negara.

Perjalanan ini membuat saya sadar bahwa angka dalam laporan survei sebenarnya punya wajah. Di balik persentase elektabilitas, ada ibu yang berharap anaknya bisa sekolah lebih dekat. Ada warga yang ingin harga sembako lebih murah.

Ada masyarakat yang hanya ingin pemimpinnya mau datang melihat mereka secara langsung. Dan mungkin itulah hikmah terbesar menjadi enumerator lapangan. Kita belajar bahwa tugas mendengar suara rakyat bukan pekerjaan teknis semata.

Kadang itu adalah cara paling jujur untuk memahami arti kehidupan, perjuangan, dan harapan manusia di negeri yang begitu luas ini.

Sebuah serial dalam buku Jejak-Jejak Perjuangan Para Enumerator dan Wajah Indonesia yang Terlupakan, yang mengubah cara memandang hidup, negeri, dan kemanusiaan.

 

Disusun Oleh Riyawan S, Hut.