Oleh : Linda Enumerator asal Bali
Saya dulu mengira pekerjaan enumerator cuma soal datang, bertanya, mencatat jawaban, lalu pulang membawa data. Kedengarannya sederhana. Bahkan terlalu sederhana untuk diceritakan panjang-panjang. Tapi Bali mengubah cara saya melihat pekerjaan ini.
Pulau itu mengajari saya, bahwa data bukan sekadar angka yang nanti dipresentasikan dalam rapat atau dimasukkan ke laporan penelitian. Di balik setiap jawaban responden, ada manusia dengan hidupnya sendiri. Ada budaya yang tidak bisa dipaksa mengikuti format kuesioner. Ada tradisi yang jauh lebih tua daripada metode survei modern.
Dan di sanalah saya mulai paham, menjadi enumerator, bukan cuma pekerjaan teknis. Kadang, ia lebih mirip perjalanan memahami hidup orang lain.
Bali bukan tempat yang mudah untuk dibaca hanya lewat statistik. Ia harus dijalani pelan-pelan. Dari jalan kecil menuju banjar, dari obrolan singkat di teras rumah, dari suara gamelan yang terdengar samar menjelang sore.
Di Bali, saya belajar bahwa tugas lapangan bukan tentang seberapa cepat mengumpulkan data. Tapi tentang seberapa mampu kita menghormati kehidupan yang sedang kita datangi.
Ketika Pariwisata Membuat Enumerator Jadi “Pekerjaan Sepi Peminat”
Hal pertama yang saya sadari ketika mulai bekerja di Bali, adalah sulitnya mencari enumerator lokal. Awalnya saya heran. Bali punya banyak anak muda cerdas, komunikatif, dan terbiasa bertemu orang baru. Logikanya, pekerjaan survei lapangan seharusnya mudah mendapat tenaga kerja. Ternyata saya salah.
Bali punya magnet ekonomi yang jauh lebih kuat daripada pekerjaan enumerator. Pariwisata menyedot hampir semua potensi tenaga muda. Anak-anak muda di Gianyar, Badung, Denpasar, sampai daerah wisata kecil punya banyak pilihan pekerjaan yang lebih menjanjikan. Ada yang menjadi staf hotel, pemandu wisata, Barista, fotografer wisata, pekerja vila, sampai membuka usaha kecil sendiri.
Pendapatan mereka sering kali lebih tinggi. Jam kerjanya terasa lebih fleksibel. Dan yang paling penting, pekerjaan itu dianggap lebih “hidup”.
Sementara pekerjaan enumerator? Kerjanya keliling dari rumah ke rumah, kehujanan, kepanasan, kadang ditolak warga, kadang pulang tanpa satu wawancara pun berhasil. Tidak heran kalau pertumbuhan enumerator baru di Bali berjalan lambat.
Orang-orang yang sudah berpengalaman akhirnya terus dipakai berulang kali. Mereka hafal medan, hafal karakter masyarakat, dan tahu cara bertahan di lapangan. Sementara orang baru biasanya butuh waktu lama untuk benar-benar kuat menghadapi ritme pekerjaan ini.
Di situ saya belajar satu hal sederhana, tidak semua pekerjaan penting terlihat menarik di mata banyak orang. Padahal tanpa pekerjaan lapangan seperti ini, banyak kebijakan mungkin lahir dari asumsi, bukan kenyataan.
Bali Tidak Hidup dengan RT dan RW
Kalau ada satu kesalahan paling umum dari enumerator luar Bali, itu adalah datang ke lapangan dengan asumsi, bahwa struktur sosial Bali sama seperti daerah lain. Padahal tidak. Di banyak wilayah Indonesia, kita terbiasa mengenal RT dan RW sebagai unit sosial terkecil. Tapi Bali punya sistem yang berbeda. Di sini, denyut kehidupan masyarakat bergerak lewat banjar.
Dan banjar bukan sekadar wilayah administratif. Banjar adalah tempat orang saling mengenal, saling membantu, saling mengurus upacara, bahkan saling menjaga hidup satu sama lain.
Ada banjar dinas yang mengurus administrasi pemerintahan. Ada juga banjar adat yang mengurus tradisi, upacara, dan kehidupan sosial masyarakat Hindu Bali. Bagi orang luar, dua istilah itu mungkin terdengar mirip. Tapi di lapangan, perbedaannya sangat penting.
Enumerator yang datang tanpa memahami siapa kelian banjar, tanpa izin yang tepat, atau tanpa menghormati aturan adat setempat, bisa kesulitan bahkan sebelum wawancara dimulai.
Saya pernah melihat sendiri bagaimana pendekatan yang salah membuat warga menjadi dingin. Bukan karena mereka tidak ramah. Tapi karena masyarakat Bali sangat menghargai tata krama sosial. Dan jujur saja, saya kagum pada hal itu.
Di tengah dunia yang makin individualistis, Bali masih menjaga hubungan sosial sebagai sesuatu yang sakral. Dari sana saya belajar bahwa masuk ke sebuah wilayah bukan cuma soal datang membawa surat tugas. Tapi juga soal tahu cara menghormati rumah orang lain.
Satu Pagar, Lima KK, dan Kebingungan Enumerator Baru
Ada momen yang hampir selalu membuat enumerator baru kebingungan, ketika pertama kali survei di Bali. Satu alamat ternyata dihuni banyak keluarga. Dari luar, rumah itu terlihat seperti satu rumah besar biasa. Ada gerbang khas Bali yang disebut angkul-angkul, ada tembok pembatas, dan halaman luas di tengah. Tapi ketika masuk ke dalam, ternyata ada banyak bangunan kecil terpisah. Di situlah beberapa keluarga tinggal bersama.
Anak laki-laki yang sudah menikah biasanya tetap tinggal di pekarangan keluarga. Mereka membangun bale sendiri, tapi masih berada dalam satu area yang sama dengan orang tua.
Mereka berbagi halaman, berbagi tempat sembahyang keluarga, kadang masih berbagi dapur juga. Bagi masyarakat Bali, itu bukan tanda ketidak mandirian. Itu adalah cara menjaga hubungan keluarga tetap dekat.
Tapi bagi enumerator? Itu bisa menjadi tantangan besar. Karena dalam sistem survei nasional, satu alamat sering diasumsikan sebagai satu rumah tangga. Di Bali, asumsi itu bisa langsung runtuh.
Enumerator harus benar-benar teliti membedakan mana KK, mana rumah tangga, siapa yang makan bersama, siapa yang tinggal menetap, dan siapa yang hanya tercatat administratif.
Kesalahan kecil bisa membuat data melenceng jauh. Dan di situlah kesabaran diuji. Saya pernah berdiri hampir satu jam hanya untuk memastikan struktur keluarga dalam satu pekarangan. Bukan karena warganya mempersulit, tapi karena sistem kehidupan mereka memang berbeda.
Kadang kita terlalu terbiasa memaksa kehidupan masuk ke kotak-kotak administrasi. Padahal hidup manusia jauh lebih rumit daripada formulir.
Desa yang “Langganan” Jadi Sampel Survei
Kalimat ini sering sekali terdengar di lapangan, “Kok desa kami lagi yang disurvei? Nada bicaranya kadang bercanda, kadang lelah. Dan sebenarnya, warga tidak salah merasa begitu. Beberapa desa memang lebih sering terkena sampel survei karena faktor metodologi. Desa dengan kepadatan tinggi, akses mudah, atau karakteristik tertentu punya peluang lebih besar untuk terpilih dalam survei nasional.
Belum lagi kalau surveinya menggunakan metode panel, di mana rumah tangga yang sama dipantau berkali-kali dalam periode tertentu. Akibatnya ada desa yang merasa “langganan survei”, sementara desa lain hampir tidak pernah didatangi.
Sebagai enumerator, situasi seperti ini sering serba salah. Kita datang membawa tugas. Tapi warga membawa kejenuhan. Ada yang tetap ramah. Ada juga yang mulai bertanya,
”Data ini sebenarnya buat apa?”
Dan pertanyaan itu kadang sulit dijawab secara sederhana. Karena kenyataannya, banyak warga tidak pernah benar-benar melihat hubungan langsung antara data yang mereka berikan dengan perubahan hidup mereka.
Dari sana saya belajar bahwa pekerjaan lapangan bukan hanya soal mengambil data, tapi juga soal menjaga kepercayaan masyarakat. Kalau kepercayaan itu hilang, maka jawaban di kuesioner hanya akan menjadi formalitas kosong.
Anjing Jalanan, Upacara Adat, dan Hari-Hari yang Tidak Bisa Diprediksi
Tidak ada pelatihan enumerator yang benar-benar bisa mempersiapkan seseorang menghadapi lapangan di Bali. Karena terlalu banyak hal yang hanya bisa dipahami setelah dijalani sendiri. Misalnya anjing jalanan.
Bali punya banyak anjing yang berkeliaran bebas di gang-gang desa. Sebagian jinak, sebagian agresif, sebagian hanya suka menggonggong keras pada orang asing.
Bagi enumerator yang harus berjalan kaki sendirian masuk gang kecil, itu cukup membuat jantung bekerja lebih cepat. Lalu ada upacara adat. Ini bagian yang paling sering membuat jadwal survei berantakan.
Hari ini warga bisa berjanji siap diwawancarai. Besok pagi tiba-tiba seluruh banjar sedang sibuk ngayah di pura. Tidak ada orang di rumah. Tidak ada yang bisa diwawancarai. Dan tidak ada yang bisa disalahkan. Karena bagi masyarakat Bali, upacara bukan acara sampingan. Itu bagian utama dari hidup mereka.
Saya pernah mendengar cerita seorang enumerator yang menempuh perjalanan jauh ke daerah pelosok. Jalan sempit, sinyal hilang, bensin hampir habis.
Sesampainya di sana, desa sedang mengadakan upacara besar. Semua warga ada di pura. Ia pulang tanpa satu data pun. Capek? Tentu. Kesal? Mungkin sedikit. Tapi dari situ kita belajar menerima bahwa tidak semua hal bisa dipaksa berjalan sesuai target kerja. Kadang hidup memang meminta kita berhenti sebentar dan memahami ritme orang lain
Segelas Air Dingin dan Salak yang Tidak Pernah Terlupakan
Di tengah semua kesulitan itu, Bali juga memberi banyak kehangatan kecil yang sulit dilupakan. Ada ibu-ibu yang tiba-tiba memotongkan buah untuk enumerator. Ada bapak-bapak yang mempersilakan duduk lebih dulu sebelum wawancara dimulai.
Ada nenek yang berkali-kali meminta maaf karena tidak terlalu paham pertanyaan survei. Hal-hal kecil seperti itu mungkin tidak pernah masuk laporan kerja. Tapi justru itu yang paling membekas. Saya pernah diberi salak dan jambu air oleh responden setelah wawancara selesai.
Nilainya mungkin tidak seberapa. Tapi setelah berjalan seharian di bawah matahari, pemberian kecil seperti itu terasa lebih hangat daripada honor pekerjaan. Di situ saya sadar, kerja lapangan membuat seseorang belajar menghargai kebaikan sederhana. Bukan kebaikan besar yang ramai dipamerkan. Tapi perhatian kecil yang datang tulus dari orang-orang biasa.
Bali Mengajarkan Bahwa Data Selalu Punya Wajah Manusia
Ada banyak orang mengira pekerjaan enumerator hanyalah pekerjaan teknis. Datang. Bertanya. Mencatat. Pulang. Padahal kenyataannya jauh lebih dalam.
Enumerator belajar membaca situasi sosial. Belajar menghormati budaya. Belajar sabar menghadapi penolakan. Belajar tetap sopan meski lelah. Dan yang paling penting adalah belajar memahami bahwa setiap data selalu punya wajah manusia.
Di Bali, saya melihat sendiri bagaimana angka statistik sebenarnya lahir dari kehidupan nyata. Dari petani yang baru pulang ke sawah. Dari ibu rumah tangga yang sibuk menyiapkan sesajen. Dari warga yang menunda wawancara karena harus ngayah di pura.
Data bukan benda mati. Ia lahir dari cerita hidup orang-orang. Mungkin itu sebabnya pekerjaan ini terasa melelahkan sekaligus menghidupkan. Karena semakin lama berjalan di lapangan, semakin kita sadar bahwa tugas seorang enumerator bukan sekadar mencari jawaban. Tapi belajar mendengarkan kehidupan.
Sebuah serial dalam buku Jejak-Jejak Perjuangan Para Enumerator dan Wajah Indonesia yang Terlupakan
sebuah perjalanan yang mengubah cara memandang hidup, negeri, dan kemanusiaan.
Disusun dan Penanggung jawab tulisan: Riyawan S, Hut.